Korban Alquran Suci Nangis Bertemu Keluarganya

Korban Alquran Suci Nangis Bertemu Keluarganya

- detikNews
Selasa, 20 Nov 2007 18:00 WIB
Bandung - Sekitar pukul 16.30 WIB, Siti Maemunah, korban Alquran Suci tiba di rumah kontrakannya. Dia menangis haru saat melihat pamannya Doto Wibowo.

Mata Maemunah langsung berkaca-kaca ketika melihat sosok pria yang sangat dikenalnya itu. Maemunah langsung menghampiri dan menangis dalam pelukan pria yang sudah bertahun-tahun mencari keberadaannya.

Keduanya kemudian melakukan pembicaraan 4 mata di belakang rumah. Sekitar 10 menit kemudian, pembicaraan kedua anak manusia itu berakhir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya ingin pulang," kata Maemunah di kontrakannya Kampung Empangsari RT 1 RW 1 Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (20/11/2007).

Penampilan Maemunah layaknya gadis kebanyakan. Dia mengenakan kaos berwarna pink dipadu jilbab putih dan jelana panjang jeans.

Kepada wartawan Maemunah membantah menjadi anggota Alquran Suci. Menurutnya, kelompok pengajiannya bernama Haq (bukan Al Haq). Dia tidak mengetahui aliran Alquran Suci.

"Sama seperti kelompok lain, kita percaya Alquran dan hadits. Kami juga tidak pernah dipaksa membayar sodakoh dalam jumlah tertentu. Sodakoh dibayar sukarela," tutur Maemunah.

Maemunah juga mengatakan, sudah lebih dari sebulan tidak berhubungan dengan perekrutnya yang bernama Yuli. Alasannya cuma sepela, HP miliknya hilang dan dia tidak hafal nomor Yuli.

"Sesuai perjanjian dengan ibu Yuli, kalau selama sebulan kita tidak berkomunikasi, otomatis saya dianggap keluar," ungkap Maemunah.

Mengenai mengapa dirinya tidak pulang ke rumah sekian lama, Maemunah tidak banyak berkomentar. Menurutnya, hal itu disebabkan dirinya sibuk bekerja.

"Saya sudah telepon keluarga kok, kalian (wartawan) saja yang ngga tahu," ungkap Maemunah sambil masuk kembali ke dalam rumahnya.

Namun sejumlah pernyataan Maemunah bertentangan dengan korban lainnya, Wintarti. Sebelumnya gadis ini mengaku kerap dipaksa menyetor sejumlah dana ke kelompok tersebut. Wintarti juga tidak tahu untuk apa dana itu digunakan.

"Yah mungkin yang namanya ilmu kan tidak ada yang gratis," tukas Wintarti. (djo/asy)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads