Doto Wibowo, paman Maemunah, tiba di kontrakan para korban Alquran Suci di Kampung Empangsari RT 01 RW 01, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, sekitar pukul 15.00 WIB, Selasa (20/11/2007).
Doto didampingi seorang pria bernama Maryono. Menurut Doto, Maemunah adalah keponakannya yang tinggal bersama dirinya sejak tahun 2002. Setelah dua tahun tinggal bersama Doto, Maemunah izin ingin belajar di sebuah pesantren di Bitung, Tangerang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun tak lama kemudian, Maemunah pindah ke rumah Maryono yang juga di Tangerang. Di rumah Maryono, Maemunah bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Tapi baru beberapa lama bekerja, Maemunah mengaku ditelepon oleh saudaranya di Rawamangun. Dia pun meminta izin kepada Maryono untuk berkunjung ke rumah saudaranya itu.
"Dan sekian lama ditunggu, dia tidak balik lagi. Akhirnya kami cek ke Rawamangun, ternyata dia tidak berada di sana. Dan sejak itulah dia menghilang," ungkap Doto.
Menurut Doto, dirinya sudah mencari Maemunah ke sejumlah tempat tapi tidak juga ketemu. Jejak gadis itu seolah lenyap ditelan bumi. Tak sekali pun dia menghubungi sanak keluarganya, termasuk orang tuanya yang tinggal di Lampung.
Sampai akhirnya Doto mendapat kabar dari tetangganya. Dia mengaku melihat Maemunah di TV saat berita penangkapan aktivis Alquran Suci ditayangkan.
"Saya akhirnya berangkat ke sini. Orang tua Maemunah juga sedang dalam perjalanan menuju Bandung untuk menjemput anaknya," ujar Doto.
Namun upaya untuk menjemput Maemunah agaknya tidak begitu mudah. Sebab, setelah sekian lama tiba, Doto tak juga diizinkan masuk ke dalam rumah kontrakan korban Alquran Suci. Berkali-kali pintu diketuk, berkali-kali juga tidak ada jawaban.
Maemunah sendiri dikabarkan sedang tidak berada di dalam rumah itu karena sedang bekerja. Di dalam rumah itu hanya ada dua orang korban Alquran Suci, yakni Khaiyaroh dan Wintarti. (djo/umi)










































