"Saya kira sipir itu manusia juga dan identik dengan orang yang bisa tergoda," kata Dirjen Pemasyarakatan Depkum HAM Untung Sugiono kepada detikcom, Selasa (20/11/2007).
Menurut Untung, dengan intensitas komunikasi yang terjadi, memang tidak menutup kemungkinan ketahanan mental mereka jebol juga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untung lalu menjelaskan salah satu solusi yang dilakukan adalah dengan pembangunan capacity building, penyuluhan bahaya narkoba dan yang juga penting peningkatan kesejahteraan.
"Sekitar 70 persen pegawai lapas berdomisili jauh dari tempat kerja. Ada yang di Karawang, Tangerang, dan Bogor. Ini perlu ongkos dan makan, namanya pegawai negeri, insentifnya jauh dari cukup. Kita akui ini sangat berpengaruh," jelas Untung.
Dan mereka pun menghadapi tantangan para bandar narkoba yang memiliki uang berlimpah. "Uang mereka tidak berseri," imbuh Untung.
Razia yang dilakukan di lapas pun menurut Untung kerap dilakukan secara insidentil, namun hasilnya tidak banyak yang dapat diharapkan. "Menangani tahanan narkoba lebih rumit dibandingkan dengan tahanan konvensional," ujar Untung.
Lalu bagaimana dengan ide untuk melakukan rotasi sipir di penjara seperti yang disampaikan Menkum HAM Andi Mattalata. "Ini adalah salah satu solusi, dan kita mesti melakukan koordinasi dengan pihak Kakanwil di DKI Jakarta, pihak Depkum HAM. Kita harus optimis," tandasnya. (ndr/sss)











































