Hal itu disampaikan al-Jufri kepada wartawan di Madinah, Senin (19/11/2007) malam. Sejumlah alasan yang disampaikannya perihal berbagai risiko itu antara lain adalah kondisi alam di Arafah yang yang tidak bisa dipastikan stabil.
Alasan kedua adalah dapat mengganggu konsentrasi beribadah karena selalu berpikir untuk antre mendapatkan makan. Padahal wukuf adalah puncak ibadah haji.
"Antrean untuk (prasmanan) itu kan tidak hanya memakan waktu 10 hingga 15 menit, tapi bisa berjam-jam. Ini bisa mengganggu kekusyukan, padahal sentral peribadatan haji kan di Arafah," jelas Al-Jufri.
"Kalau berhasil cara penyajian makan dengan prasmanan itu luar biasa bagus. Nilainya bisa 9 bahkan 10. Tapi belajar dari pengalaman di tahun-tahun yang lalu, tidak perlu dalam waktu cuma beberapa hari itu kita menggunakan cara-cara yang ada titik lemahnya," lanjutnya.
Dia yakin jamaah haji akan lebih senang pembagian makanan diberikan dengan model box karena merasa ada ketersediaan makanan. Apalagi saat berada di Mina ketika mobilitas jamahh sangat tinggi. (mbr/ndr)










































