Perihal Diana yang memberontak saat sekarat ini diungkapkan dokter gawat darurat yang menangani Diana, Jean-Marc Martino, dalam pengadilan di London, seperti dilansir AFP, Selasa (20/11/2007).
"Diana berteriak dan mengatakan sesuatu dalam bahasa Inggris, tapi tidak beraturan," ujar Martino.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan itu dibenarkan ahli yang menangani Diana pasca kecelakaan untuk pengadilan di Perancis, Prof Andre Lienhart.
"Itu benar. Karena gerakannya yang kuat, tetesan pertama meleset," ujar Lienhart dalam video konferensi dari Paris. Â
Seorang asistennya, lajut Lienhart, telah memegangi Diana sekuat tenaga, agar tetesan itu dapat masuk ke lengan istri Pangeran Charles tersebut.
"Diana memberontak dan menolak pengobatan. Dia akhirnya menyuntikkan beberapa obat untuk mengurangi gerakan Diana, supaya Diana bisa menerima pengobatan," beber Lienhart.
Diana, bersama kekasihnya Dodi al-Fayed serta sopir mereka Henry Paul tewas dalam kecelakaan mobil di terowongan Pont del Alma, dari Hotel Ritz pusat kota Paris, karena menghindari jepretan foto paparazzi.
Penelitian yang dilakukan pihak Perancis dan Inggris secara terpisah menyimpulkan hal yang sama, sopir Paul menenggak terlalu banyak alkohol dan mengemudi terlalu cepat.
Namun, ayah Al Fayed, Mohamed al-Fayed, yang juga pemilik pusat perbelanjaan Harrods, mengatakan kematian itu telah direncanakan pihak Inggris, agar Diana tak menikah dengan seorang muslim. (nwk/ndr)











































