Curhat Ibu Soal Bullying: Kaget Sang Anak Minta Beli Senjata

Curhat Ibu Soal Bullying: Kaget Sang Anak Minta Beli Senjata

- detikNews
Senin, 19 Nov 2007 18:03 WIB
Jakarta - Kasus kekerasan kakak kelas terhadap adik kelas membuat ibu-ibu cemas dan berusaha membuka aib tersebut. Seorang ibu bernama Evita yang anaknya bernama Muhammad Gamal membeberkannya.

Berikut pengakuan Evita dalam seminar 'Stop Bullying' di Hotel Le Meridien, Jl Sudirman, Jakarta, Senin (19/11/2007).

"Saya dekati anak saya, supaya bisa ngomong. Saya juga berpacu dengan brain washing dengan kakak-kakak kelasnya. Sudah merupakan tradisi SMA 70 bagi anak kelas 1 supaya diakui anak kelas 3, yaitu harus mendatangi SMA 6. Di sana tawuran dan harus menang," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu Evita membiarkan anaknya cerita soal itu. Evita membiarkan anaknya untuk memilih dan akhirnya Gamal ikut tawuran.

"Suatu ketika anak saya minta duit buat beli senjata. Saya kaget, terus saya bilang, kalau mau berantem, pakai tangan kosong, jangan pakai senjata, itu banci. Lalu saya tanya, senjata beli di mana dan dapat di mana," tutur Evita.

"Katanya dapat dari PKL sekitar Bulungan, senjatanya bambu atau tongkat. Mereka sudah bertahun-tahun jual itu. Saya lalu ngomong dengan Kepsek, ternyata tawuran di situ sudah 24 tahun dan tidak bisa dihentikan sampai sekarang," kata dia.

Kaderisasi, lanjut dia, dipantau alumni sampai 5 tahun setelah kelulusan. Kalau anak-anak kelas 1 lembek, kelas 3-nya akan ditegur alumni, berati kurang keras didikannya.

"Saya lapor waktu itu sama Wakasek, jawabannya aneh, muter-muter ke sana ke mari. Ternyata waktu itu dia takut ngomong karena ada anak kelas 3 sedang lewat," kata dia.

"Selain itu tawuran, ada PR dari anak kelas 3 buat anak kelas 1. Tiap minggu harus menyerang SMA 6. Kedua, melakukan kudeta melawan anak kelas 2. Nah, kalau yang ini belum berhasil. Kemarin sudah sempat dorong-dorongan, tapi keburu dilerai.

"Saya ngomong sama anak saya soal ibunya berani bicara di media. Kamu nggak takut digencet sama anak kelas 3? Nggak apa-apa, Mah, sudah saatnya kita bicara," kata dia.

"Saya bicara seperti ini karena takut anak saya jadi pelaku bullying. Sekarang dia masih jadi korban," tandas dia. (nik/sss)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait