Begitulah keluhan Ibu Eny mengenai prestasi putrinya yang semakin menurun. Meski sudah mengadu ke pihak sekolah, namun tidak ada penyelesaian berarti. Ibu Eny yang juga seorang karyawan ini malah berniat memindahkan sekolah putrinya.
Apa yang dialami Udsy juga dialami oleh kebanyakan murid lainnya saat ini. Menurut sosiolog Imam B Prasodjo, mereka adalah korban bullying (digencet) kakak kelas, atau teman sekelasnya sendiri.
Lalu bagaimana cara mengidentifikasi korban bullying yang kebanyakan enggan bercerita pada orang tuanya?
"Pertama, absensi atau kehadiran sekolah yang berubah. Lalu kurangnya minat belajar," jelas Imam dalam seminar 'Stop Bullying' di Hotel Le Meridien, Jl Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (19/11/2007).
Imam melanjutkan, ciri lainnya adalah prestasi tiba-tiba menurun. Satu hal yang unik, ternyata anak yang prestasinya tiba-tiba naik juga berpotensi menjadi korban bullying.
"Itu sebagai kompensasi. Dia belajar terus dan mendekat ke guru-guru karena dicuekin sama teman-temannya," jelasnya.
Indikasi lain adalah aktivitas anak di kegiatan ekskul. Anak yang tiba-tiba mundur dari ekskul kesukaannya, patut diwaspai. Terakhir, yang tidak kalah penting yaitu ciri-ciri fisik korban bullying. Orangtua harus concern bila ada perubahan fisik pada anaknya.
"Tiba-tiba gagap bicara. Ada bekas cakaran, memar, naju, dan pakaian lusuh tanpa alasan yang tidak jelas," paparnya.
(gah/sss)











































