Buntutnya ratusan penduduk terpaksa antre di hidran-hidran umum yang dikelola warga setempat. Sejauh ini warga tidak tahu sebab musabab terhentinya pasokan PAM.
Di empat kecamatan itu, pemandangan warga mengantre air sudah tidak asing lagi sejak Minggu 18 November dan Senin (19/11/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk kebutuhan mandi dan cuci, masing-masing KK rata-rata membutuhkan 6-10 jeriken. Untuk pembelian 6 jeriken air, penjual memberikan diskon. Warga cukup membayar Rp 2.000. Sementara untuk kebutuhan masak dan minum, warga membeli air isi ulang seharga Rp 3.000 per galon. Jadi untuk membeli air, sedikitnya warga mengeluarkan uang Rp 5.000-Rp 7.000 per hari.
Di hidran milik Ukidah, warga RT 01 RW 08, Rawabadak Utara, misalnya, puluhan warga mulai dari anak-anak, ibu-ibu hingga remaja tampak mengular.
Tono (28), salah satu warga yang sedang antre mengatakan, PAM di wilayahnya mati sejak Sabtu 17 November. Untuk Sabtu, warga tidak terlalu kelimpungan karena stok air milik mereka masih mencukupi.
Namun memasuki hari Minggu, bak-bak penampungan air warga mulai kritis, sehingga terpaksa membeli air di hidran-hidran yang dikelola warga.
"Air PAM hanya setetes-setetes, itu juga kotor dan bau. Kita nggak tahu mau protes ke mana, tahunya harus antre saja," tegas dia.
Meski krisis air, Tono dan warga setempat mengaku belum terlalu tersiksa karena masih bisa memperoleh air dengan mudah, kendati harus mengeluarkan duit ekstra. "Belum menyiksa banget sih, cuma untuk beli makanan enak jadi berkurang," kata salah satu warga.
(umi/nrl)










































