4 Kecamatan di Jakut Krisis Air, 2 Hari Air PAM Tak Mengalir

4 Kecamatan di Jakut Krisis Air, 2 Hari Air PAM Tak Mengalir

- detikNews
Senin, 19 Nov 2007 16:25 WIB
Jakarta - Dua hari terakhir ini ribuan KK di Kecamatan Tanjung Priok, Pademangan, Cilincing dan Koja, Jakarta Utara 'megap-megap'. Pasokan air dari PAM terhenti sama sekali. Kalau pun ada hanya setetes, berbau dan kotor.

Buntutnya ratusan penduduk terpaksa antre di hidran-hidran umum yang dikelola warga setempat. Sejauh ini warga tidak tahu sebab musabab terhentinya pasokan PAM.

Di empat kecamatan itu, pemandangan warga mengantre air sudah tidak asing lagi sejak Minggu 18 November dan Senin (19/11/2007).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di setiap hidran sedikitnya tampak 50 warga yang antre membeli air. Masing-masing membawa dua jeriken ukuran 20 liter. Untuk mengisi dua jeriken itu, warga harus mengeluarkan uang Rp 1.000.

Untuk kebutuhan mandi dan cuci, masing-masing KK rata-rata membutuhkan 6-10 jeriken. Untuk pembelian 6 jeriken air, penjual memberikan diskon. Warga cukup membayar Rp 2.000. Sementara untuk kebutuhan masak dan minum, warga membeli air isi ulang seharga Rp 3.000 per galon. Jadi untuk membeli air, sedikitnya warga mengeluarkan uang Rp 5.000-Rp 7.000 per hari.

Di hidran milik Ukidah, warga RT 01 RW 08, Rawabadak Utara, misalnya, puluhan warga mulai dari anak-anak, ibu-ibu hingga remaja tampak mengular.

Tono (28), salah satu warga yang sedang antre mengatakan, PAM di wilayahnya mati sejak Sabtu 17 November. Untuk Sabtu, warga tidak terlalu kelimpungan karena stok air milik mereka masih mencukupi.

Namun memasuki hari Minggu, bak-bak penampungan air warga mulai kritis, sehingga terpaksa membeli air di hidran-hidran yang dikelola warga.

"Air PAM hanya setetes-setetes, itu juga kotor dan bau. Kita nggak tahu mau protes ke mana, tahunya harus antre saja," tegas dia.

Meski krisis air, Tono dan warga setempat mengaku belum terlalu tersiksa karena masih bisa memperoleh air dengan mudah, kendati harus mengeluarkan duit ekstra. "Belum menyiksa banget sih, cuma untuk beli makanan enak jadi berkurang," kata salah satu warga.

(umi/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait