Aktivis Greenpeace Tinggalkan Riau Menuju Jakarta

Aktivis Greenpeace Tinggalkan Riau Menuju Jakarta

- detikNews
Senin, 19 Nov 2007 16:12 WIB
Pekanbaru - Para aktivis greenpeace bersama kapal Rainbow Warrior mengkahiri masa kampanye lingkungan di Riau. Para aktivits yang membuat heboh di Riau karena menyandera kapal tanker CPO berlayar menuju Jakarta untuk bertemu Presiden RI.

Setelah bertemu Presiden SBY di Jakarta, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Bali. Di Pulau Dewata ini, para aktivis greenpeace ini akan menghadiri pertemuan PBB tentang iklim yang akan dimulai awal Desember nanti.

"Kami ingin  pemerintah Indonesia segera menerapkan moratorium atas pengalihan hutan dan penghancuran lahan gambut demi mencegah perubahan iklim yang berbahaya. Kontribusi Indonesia terhadap perubahan iklim yang berbahaya akan meningkat, kecuali ada tindakan yang diambil untuk melindungi hutan dan lahan gambut," kata Bustar Maitar, Juru Kampanye Solusi Kehutanan Greenpeace Asia Tenggara dalam surat internetnya yang diterima detikcom, Senin (19/11/2007).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kapal Rainbow Warrior telah meninggalkan Dumai, pada akhir pekan lalu dari pelabuhan untuk ekspor minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia, kota Dumai. Kapal greenpeace Sabtu kemarin terpaksa menyingkir oleh kapal penarik saat memblokir kapal tanker MT Westama yang hendak keluar dari pelabuhan Dumai.

Aksi Rainbow Warrior itu untuk membeberkan dampak buruk dari industri kelapa sawit terhadap lahan gambut dan hutan di Indonesia, serta iklim global. Tindakan tanpa kekerasan Greenpeace tersebut juga untuk menentang ekspor minyak kelapa sawit dan telah menjadi perhatian para petinggi di Jakarta hingga Presiden SBY mengadakan pertemuan terbatas dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Pertanian serta Sekretaris-Jendral Departemen Kehutanan, untuk membahas kegiatan Rainbow Warrior dan seruan Greenpeace mengenai penerapan moratorium atas deforestasi dan konversi lahan gambut.

Menurut Bustar, Menteri Kehutanan M.S. Kaban juga dijadwalkan untuk bertemu dengan
Greenpeace di Jakarta hari Selasa 20 November 2007 guna membahas masalah itu. Konversi hutan dan lahan gambut untuk kepentingan perkebunan kelapa sawit merupakan penyebab utama deforestasi di Indonesia. Karbon yang  terlepas karena kegiatan tersebut menyebabkan Indonesia menjadi negara ketiga pelepas emisi karbon terbesar di dunia.

"Temuan dalam laporan terakhir Panel Antarpemerintah PBB tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) yang dikeluarkan Sabtu kemarin merupakan peringatan tegas bahwa seluruh pemerintah di dunia harus mengambil langkah tegas untuk melindungi iklim global," tambah Bustar.

Lebih lanjut Bustar menjelaskan, hutan Indonesia berpotensi menjadi bagian penting dalam solusi global untuk perubahan iklim. Namun, jika pengalihan hutan terus terjadi, hutan-hutan di Indonesia justru akan menjadi bagian masalah perubahan iklim.

"Kami menyerukan pula agar masyarakat internasional mendampingi Indonesia dalam memastikan upaya untuk menghentikan penggundulan hutan di negara ini," kata Bustar.

(cha/djo)


Berita Terkait