Prabowo: PBB Ramal Ancaman Kelaparan Dunia, Kita Justru Mulai Ekspor

Prabowo: PBB Ramal Ancaman Kelaparan Dunia, Kita Justru Mulai Ekspor

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Rabu, 24 Jun 2026 13:49 WIB
Prabowo di acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan ke-XVII, Gorontalo, Rabu (24/6/2026).
Prabowo di acara Puncak Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII, Gorontalo, Rabu (24/6/2026). (Foto: Tangkapan YouTube Setpres)
Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia saat ini berada dalam posisi yang kuat di sektor pangan. Ia mengungkap Indonesia bahkan mulai mampu mengekspor hasil produksi pertanian ke negara lain.

Menurut Prabowo, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan peringatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai ancaman krisis pangan dan kelaparan global. Di saat banyak negara menghadapi tantangan pangan, Indonesia justru memiliki surplus yang dapat membantu kebutuhan negara lain.

"Dan PBB sudah meramalkan adanya ancaman kelaparan dunia. Sekarang kita justru mulai ekspor. Kita membantu negara-negara lain," kata Prabowo di acara Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII, Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prabowo mengungkapkan dirinya bahkan menerima telepon dari Perdana Menteri Australia yang menyampaikan apresiasi atas surplus pupuk yang dimiliki Indonesia. Pemerintah Australia, kata dia, juga meminta Indonesia menjual pupuk kepada mereka.

"Saya ditelepon Perdana Menteri Australia. Beliau berterima kasih karena Indonesia punya surplus pupuk dan mereka meminta agar kita menjual pupuk kepada mereka," ujarnya.

Selain Australia, Prabowo menyebut banyak negara lain yang juga meminta pasokan pupuk dan beras dari Indonesia. Namun, ia menegaskan, ekspor harus dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan petani dalam negeri.

"Saya bilang, kirim ke mereka. Banyak negara meminta pupuk dari kita. Banyak negara meminta beras dari kita. Asal harganya benar. Ya, Menteri Pertanian?" ucapnya.

Prabowo kemudian menekankan petani tidak boleh dirugikan dalam kebijakan ekspor komoditas pangan. Ia meminta agar keuntungan dari meningkatnya permintaan global turut dirasakan oleh petani Indonesia.

"Petani jangan rugi. Betul? Bagaimana sekarang, petani sudah cukup untung? Sudah belum? Mau untung lagi? Ya pasti," ujarnya.

Tonton juga video "Prabowo soal Penolakan MBG: Gak Ada yang Lebih Genting dari Perut Lapar"

(eva/dhn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini