Foke Sentil Bolong-bolong Peserta Bamus Betawi

Foke Sentil Bolong-bolong Peserta Bamus Betawi

- detikNews
Minggu, 18 Nov 2007 13:55 WIB
Jakarta - Yang bolong-bolong memang tak elok di pandang. Tak terkecuali kursi peserta silaturahmi Bamus Betawi yang bolong-bolong lantaran banyak yang tidak datang. Ketua Bamus Betawi Fauzi Bowo pun memberi sentilan.

"Kalau bikin sesuatu di kampung sendiri bolong, bagaimana mau bikin di negara. Lebih bolong lagi," ujarnya saat halal bihalal Bamus Betawi dan masyarakat Jakarta di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta, Minggu (18/11/2007).

Fauzi layak kecewa karena kursi di ruangan tersebut hanya dipadati sekitar 3 ribu orang atau 70 persen saja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau organisasi yang banyak sekali anggotanya, tentu kedudukannya berbeda dengan organisasi yang hanya terdiri dari beberapa puluh atau ratus orang. Ke depannya, perlu melakukan pemikiran kembali pengorganisasian lebih bermanfaat bagi warga betawi," beber pria yang akrab disapa Foke ini.

Dia mengajak orang betawi agar punya kemauan mengangkat harkat dan martabat keluarga sendiri, agar lebih baik dan sejahtera di waktu mendatang. Selain itu, warga Betawi juga harus memiliki kemampuan yang bagus untuk bisa menyatukan dan menjadi perekat orang Jakarta. Sebab seluruh etnis Indonesia ada di Jakarta.

"Kampung kita sekarang sudah jadi kota megapolitan, jadi kita harus bersatu. Jangan sampai belum apa-apa dipecah belah. Tidak sedikit pihak yang ingin kita terpecah-pecah," sambung Foke.

Bila lengser dari posisi Ketua Bamus Betawi, pria yang juga Gubernur DKI Jakarta itu tidak berencana maju lagi. Dia berniat akan menyerahkan posisi itu kepada generasi yang lebih muda.

"Saya sekarang punya tangung jawab yang lebih besar. Saya kira sangat tidak bijak kalau gubernur yang berkata Jakarta untuk semua tapi memberi keistimewaan kepada kaum Betawi semata-mata karena Ketum Bamus Betawi," sambung Foke.

Sosok ideal penggantinya, menurut Foke, harus bisa menyatu padukan aspirasi masyarakat Betawi, dan azasnya harus bisa diterima seluruh masyarakat Betawi.

"Dia harus bisa mendalami budaya Betawi. Yang tidak kalah penting juga harus bisa menampilkan kebetawian secara proporsional dalam konteks Ibukota Jakarta yang sekarang sudah jadi metropolitas atau megapolitan, tandasnya.
(nvt/ana)


Berita Terkait