Konferensi OPEC Diwarnai Isu Minyak US$ 200 per Barrel
Minggu, 18 Nov 2007 08:13 WIB
Jakarta - Bukan Hugo Chavez namanya kalau tidak kontroversial. Presiden Venezuela itu membuka konferensi OPEC dengan menggelontorkan isu harga minyak mentah bisa mencapai US$ 200 per barrel. Harga minyak mentah yang selangit itu bisa menjadi kenyataan bila Amerika Serikat (AS), menyerang Iran. Dia juga meminta OPEC bisa lebih mengambil sikap politis terhadap fenomena-fenomena global."Jika AS cukup gila untuk menyerang Iran atau melakukan agresi lagi ke Venezuela, maka harga minyak mentah per barrel-nya tidak lagi hanya US$ 100, tapi US$ 200," ujarnya seperti yang dilansir AFP, Minggu (18/11/2007).Isu ini ditanggapi oleh Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz. Abdullah mengatakan, minyak tidak seharusnya digunakan sebagai instrumen untuk mengatasi suatu konflik.Abdullah selanjutnya membantah OPEC adalah organisasi monopolistik yang bisa mengontrol harga minyak dunia seenaknya. "Pihak-pihak yang mengatakan OPEC adalah organisasi monopoli mengabaikan fakta OPEC selalu mengambil kebijakan dengan cara yang bijak," tegasnya.Keanggotaan OPEC didominasi oleh negara-negara teluk pro barat, tapi juga ada negara yang anti AS, yaitu Iran dan Venezuela. Negara-negara OPEC pernah sepakat menghentikan ekspor minyaknya tahun 1973 sebagai protes invasi Israel ke Suriah. Namun saat ini, Arab Saudi lebih suka menekankan peran organisasi penyuplai 40 persen kebutuhan minyak dunia ini pada fungsi ekonomi dan teknis.
(gah/gah)











































