Hujan Datangi Jakarta, Flu Burung Terlupakan
Kamis, 15 Nov 2007 13:22 WIB
Jakarta - Masih ingat fobia warga Jakarta terhadap burung karena dianggap penyebab flu mematikan awal tahun ini? Sayang, gara-gara hujan datang, warga kini beralih ke fobia banjir. Seorang warga Kebayoran Lama, Juanto (29), mengaku belum didatangi petugas sertifikasi unggas. Padahal dia memiliki dua perkutut, dua kenari, satu jalak, parkit serta burung betet. Pedagang soto ayam itu mengaku hobi memelihara burung. "Lebih baik mikirin banjir. Terlebih, saya ngeri kalau didatangi petugas," ujarnya kepada detikcom, Kamis(15/11/2007) Penyebabnya karena pada sertifikasi tahap pertama dua perkututnya diambil petugas untuk dimusnahkan. "Kalau petugas datang lagi saya mungkin akan ngumpetin burung-burung. Takut diambil lagi," tambahnya. Animo pemilik unggas peliharaan untuk menyertifikasi unggasnya sangat rendah pada sertifikasi putaran kedua kali ini diakui pemerintah. Di Jakarta Selatan bahkan tidak ada pemilik unggas yang datang sendiri memperbarui sertifikat unggasnya. Menurut Kasie Kesehatan Hewan dan Veteriner Suku Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan (P2K) Jakarta Selatan, Eko Henry Wicaksono, akibat menurunnya animo ini petugas P2K harus mengunjungi rumah pemilik unggas satu per satu. "Tidak ada tanggapan positifnya dari warga. Cuek sekali," ujar Eko, saat dihubungi wartawan. Eko mengaku pemerintah kewalahan menanggapi reaksi masyarakat yang bersikap acuh tak acuh. Kendati sertifikasi unggas peliharaan bukan perkara baru namun petugas di lapangan tetap tidak diterima secara terbuka. Apalagi petugas sertifikasi unggas tidak banyak. Di kawasan yang masyarakatnya dianggap memiliki kesadaran tinggi, petugas biasanya cukup menyerahkan prosesnya pada Ketua RW setempat. "Secara keseluruhan petugas sertifikasi unggas di Jakarta Selatan berjumlah 14, yaitu 10 dari kecamatan dan empat dari P2K," tambahnya. Sertifikat unggas tahap pertama di Jaksel dikeluarkan 10 ribu lembar.
(asp/nrl)











































