Konflik Papua Masih Lanjut, Kapolri Diminta Evaluasi Kapolda
Rabu, 14 Nov 2007 21:00 WIB
Jakarta - Perang antarsuku di Papua yang sudah terjadi lebih dari dua bulan belum berakhir. Pihak keamanan dituding sengaja membiarkan konflik tersebut. Politisi Senayan pun meminta Kapolri Jenderal Polisi Sutanto mengevalusi Kapolda Papua."Saya minta, tolong Kapolri evaluasi Kapolda Papua. Sebab sejak beliau menjabat, banyak konflik yang terjadi di Papua, tapi tidak ada yang terselesaikan. Sepertinya ada pembiaran dari pihak keamanan," ujar anggota FPG dari Papua Yorris Raweyai ketika menerima 10 warga Papua dari suku Amungme di Gedung DPR, Senayan Jakarta, Rabu (14/11/2007).Menurut Yorris, konflik yang masih terjadi di Papua saat ini bukan lagi perang seperti yang biasa dilakukan antarsuku. Menurutnya, tradisi perang yang biasa terjadi di Papua selalu demokratis dan dapat diselesaikan secara adat.Upaya penyelesaian konflik yang dilakukan pemerintah selama ini, menurutnya, tidak berhasil. "Sebab pemerintah menggunakan hukum positif yang melebihi hukum adat. Hukum positif ini tidak bisa menyelesaikan konflik disana," cetusnya.Yorris juga membantah pendapat sejumlah pejabat Papua yang menyebutkan konflik antarsuku di Papua disebabkan persoalan pribadi. Menurut Ketua AMPG ini, persoalan pribadi yang terjadi antar suku bukan penyebab sebenarnya.Dijelaskan dia, daerah Banti yang masuk wilayah Freeport, Tembagapura, merupakan tanah adat asli milik suku Amungme. Sejak Freeport masuk ke Papua, daerah Banti selalu menjadi tujuan bagi pendulang emas ilegal. Para pendatang bukan saja dari suku-suku lainnya di Papua, tapi juga dari luar Papua."Sampai sekarang, jumlah pendulang di sepanjang sungai di daerah Banti mencapai ribuan. Dan sejak itu, konflik antar suku sering terjadi. Hanya sering dibalut karena soal pribadi, padahal bukan. Jadi yang terjadi sekarang disana bukan antar suku, tapi suku pemilik tanah dengan geng-geng yang mau dapat emas ilegal dari Banti," pungkas Yorris.Perwakilan suku Amungme, Elitinus Omaleng berharap, pemerintah pusat segera turun tangan menangani konflik yang masih terjadi. Menurutnya, suku-suku di Papua tidak lagi mempercayai pejabat pemda dan keamanan setempat."Kami ingin berbagi dengan kasih. Tapi tidak begini caranya. Kalau tidak ada penyelesaian dari pusat, kami siap saja baku mati dengan suku-suku itu," ketus Elitinus.Perang antara suku Amungme yang mendiami Kampung Banti berhadapan dengan gabungan suku Dani dan Damal yang mendiami Kampung Kimberli, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, berlangsung sejak Senin 15 Oktober 2007.
(rmd/nvt)











































