Presiden SBY: Hati-hati, Fitnah Bergentayangan!
Rabu, 14 Nov 2007 01:18 WIB
Jakarta - Presiden SBY meminta para gubernur agar terbuka, setidaknya pada dirinya, bila mereka menghadapi permasalahan di daerahnya. Keterbukaan itu demi menghindarkan fitnah dan informasi menyesatkan. Permintaan tersebut ia sampaikan di hadapan para gubernur peserta Forum Konsolidasi Lemhannas, di Istana Negara, Jl. Veteran, Jakarta, Selasa (13/11/2007). "Hati-hati, fitnah bergentayangan. Bisikan ada maut di mana-mana, adu domba. Pikiran jelek pada bawahan. Itu berbahaya," ujar SBY. Presiden menjelaskan, di era demokrasi membutuhkan penanganan dan penyelesaian masalah yang jauh berbeda dengan era otorian. Bila dulu cukup dengan 'telepon' untuk menghadapi suara-suara oposan atau vokal terhadap kebijakan pemerintahan, sekarang tidak bisa lagi. Kini jajaran pemerintah harus berani menghadapi cacian dan makian itu secara efisien dan efektif. Tetapi jelas bukan dengan asal memberi pernyataan. Setiap bantahan dan sanggahan harus didukung dengan data dan fakta yang akurat agar rakyat dapat memahaminya. "Bicara dengan data dan fakta. Jangan tidak mau dikritik. Tidak selalu semua yang Anda lakukan benar, sebaliknya tidak semua yang disampaikan pengamat semuanya salah," imbuh SBY. Sesaat sebelumnya, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, mewakili peserta minta agar Lemhannas rutin menggelar konsolidasi tiap 3 bulan. Manfaat kegiatan ini bukan hanya menyamakan persepsi pengelolaan otonomi daerah, juga ajang curhat bagi kepala daerah."Ini wadah bagi kami curhat tanpa harus didengar oleh pers yang bisa salah tangkap atas apa yang kami sampaikan," ujar Fadel.
(lh/asy)











































