Konferensi Asia - Afrika 1955 yang Terlupakan

Konferensi Asia - Afrika 1955 yang Terlupakan

- detikNews
Senin, 12 Nov 2007 18:21 WIB
Bogor - Konferensi Asia Afrika (KAA) pertama yang berlangsung pada tahun 1955 di Bandung merupakan puncak diplomasi bangsa Indonesia. Tak dapat dipungkiri, Indonesia bersama lima negara lain menjadi pelopor terjadinya konferensi yang menghasilkan Dasasila Bandung ini.Prestasi membanggakan ini ternyata sudah mulai dilupakan oleh bangsa kita sendiri. Yang menyedihkan, justru anak-anak SMA sudah mulai lupa dengan apa itu KAA. Jangankan isi Dasasila Bandung, tempat berlangsungnya konferensinya saja sudah banyak yang lupa."Di Bogor," ujar salah seorang siswa SMA saat ditanya dimanakan KAA pertama berlangsung, dalam acara sosialisasi the new Asia-Africa strategic partnership (NAASP) dan Museum Konferensi Asia-Afrika di Gedung Kemuning Gading, Jl Kapten Muslihat, Bogor, Senin (12/11/2007).Meski bukan bermaksud melucu, jawaban salah seorang siswa SMA tersebut menjadi bahan tertawaan ratusan siswa lain.Bukan itu saja, saat ditanya berapa orang yang pernah berkunjung ke Museum Asia-Afrika, dari ratusan siswa hanya ada segelintir anak yang mengacungkan jari.Kondisi ini sangat disayangkan. Padahal, untuk memperoleh pengakuan dunia atas kemerdekaan, bukan hanya dilakukan melalui perang saja. Diplomasi juga mempunyai peran yang sangat signifikan."Saat ini kita hanya tahu, untuk memperoleh kemerdekaan hanya dicapai dengan perang. Padahal diplomasi juga memegang peranan yang sangat penting. Karena dengan berdiplomasi, kita juga bisa diakui dunia," ujar Kasubdit Polkam, Departemen Luar Negeri, Endang Sri Agustini dalam acara sosialisasi tersebut.Menurut Endang, KAA sebagai puncak diplomasi bangsa Indonesia memegang peranan yang sangat penting dalam upaya untuk memperoleh kedaulatan suatu bangsa.Oleh karena itu, menurut Endang, hasil KAA terbaru, yakni The New Asia-Africa strategic partnership, yang berlangsung di Bandung pada 22-23 April 2005 akan terus disosialisasikan kepada masyarakat, terutama kalangan pelajar."Kita juga menyosialisasikan keberadaan museum KAA di Bandung yang telah direnovasi sejak 2005 lalu. Kita ingin seperti di negara-negara maju, orang belajar sejarah tidak membosankan," kata Endang.Untuk membuat agar museum KAA tidak membosankan, saat ini museum tersebut sudah dirombak total. Namun tidak menghilangkan struktur aslinya."Rencananya juga akan dibangun pusat studi Asia-Afrika. Tapi itu masih kita pikirkan," jelas Endang.Sementara artis cantik Bella Saphira yang menjadi sahabat museum KAA mengaku, awalnya dia dipaksa oleh orang tuanya untuk ke museum."Tapi lama-lama saya senang juga. Apalagi dengan penataan museum yang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang disukai anak muda, saya yakin museum bisa banyak dikunjungi oleh anak muda," tuturnya. (anw/bal)


Berita Terkait