Wisata Bakau Teluk Jakarta Masih Dini, Pungli Sudah Mengantre

Wisata Bakau Teluk Jakarta Masih Dini, Pungli Sudah Mengantre

- detikNews
Senin, 12 Nov 2007 11:42 WIB
Jakarta - Renovasi hutan bakau di Teluk Jakarta sudah mulai digarap beberapa bulan lalu. Pohon mangrove ditanam di tengah rawa berair asin untuk mengembalikan kerusakan ekosistem.Setidaknya, ada dua tempat yang bisa dikunjungi warga Jakarta yakni yang berada di Muara Angke dan Kapuk Muara.Hutan bakau di Angke masih dikondisikan untuk menjadi lokasi wisata seperti pembuatan titian kayu untuk menembus hutan. Eloknya, beberapa kera yang didatangkan oleh Perhutani, masih berkeliaran bebas dan dapat dilihat dari dekat. Kera-kera itu bergelayutan di antara pohon bakau yang sudah besar dan mencapai tinggi 5 meter. Bagi yang ingin memasuki lebih dalam, ada perahu nelayan yang siap mengantar ke kompleks hutan bagian dalam.Sementara yang berada di Kapuk lebih representatif bagi kunjungan pelancong. Titian kayu telah rapih membelah rawa berpohon bakau yang masih setinggi orang dewasa. Dangau dari kayu disusun di sejumlah titik secara rapih dan teratur."Sudah banyak yang ke sini. Kebanyakan untuk foto-foto," kata Sukarman, penjaga hutan bakau Kapuk, Jakarta Utara, Senin (12/11/2007).Hanya saja, sisi eksotis hutan bakau belum dikelola secara maksimal. Tiadanya tiket masuk resmi mendorong pungutan liar (pungli) sulit dihindari. Beberapa pengunjung yang dihampiri detikcom mengaku dimintai sejumlah uang dengan alasan biaya administrasi."Awalnya hanya suruh ngisi buku tamu. Lalu dimintai uang administrasi. Katanya sih seikhlasnya. Itu nggak ada tanda terima, uangnya ke mana ya," ucap Anto (35) yang datang bersama empat rekannya. Lantas, sesuai "keikhlasannya", tiap orang memberi Rp 10.000.Pungli di kompleks wisata hutan bakau Muara Angke lebih gila. Di pintu masuk ada larangan kunjungan selain membawa surat izin dari Balai Konservasi Hutan Dephut. Namun, pengunjung awam dibiarkan masuk hingga tengah hutan.Nah, di saat itulah petugas penjaga baru menghampiri dan meminta sejumlah uang. Bila menolak, akan diusir paksa."Kalau nggak boleh masuk, kenapa nggak langsung ditulis besar-besar "Bukan Untuk Umum" di pintu masuk. Saya kayak dijebak. Saya diusir secara kasar setelah masuk dan foto-foto," kata John (31), salah satu pengunjung.Lantas, karena sudah jauh-jauh dari Bogor, John tidak mau balik arah begitu saja. Ia datangi petugas jaga dan menyerahkan sejumlah uang, John baru diperbolehkan lagi memasuki kawasan hutan.Ketika dicek ke petugas yang dimaksud, petugas itu langsung membantah. "Nggak bener. Saya hanya tanya apa dia sudah punya izin masuk. Eh..orangnya marah-marah," kelit Wawan, si petugas jaga.Kedua tempat tersebut memang dalam pengelolaan Perum Perhutani. Namun bila tidak berkoordinasi dengan instansi terkait dan saling mengawasi, penyelewengan akan terus terjadi. (Ari/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait