Moshaddeq: Jangan Tinggalkan Saya
Senin, 12 Nov 2007 01:50 WIB
Jakarta - "Jangan tinggalkan saya," demikian ucap Ahmad Moshaddeq seperti ditirukan Guru Besar Fisip UI Bachtiar Aly saat berbincang dengan detikcom di Jakarta, Minggu (11/11/2007).Kata itu diucapkan setelah Moshaddeq setelah menyatakan dirinya bertobat. Diskusi yang dilakukan dengan Ketua PBNU Said Agil Siradj, Agus Miftah, dan Bachtiar ternyata membuka hati pimpinan Al Qiyadah itu."Sejak awal sebenarnya dia ingin curhat, berdiskusi dengan ulama," tambah Bachtiar yang ahli di bidang resolusi konflik ini.Namun keinginan Moshaddeq untuk berdiskusi pun tak juga kesampaian. Hingga akhirnya setelah dia menyerahkan diri, hasratnya itu diutarakannya kepada para penyidik kepolisian. Gayung bersambut, pihak Polri lalu mengusahakan keinginan Mushaddeq itu. Dan 3 orang ini pun menjadi teman diskusi."Kita berdiskusi 1, 2, dan sampai 3 jam. Tempatnya di Polda maupun di Mabes Polri," tambah Bachtiar.Diskusi dilakukan secara intens selama 2 hari, selama minggu lalu sebelum Moshaddeq menyampaikan tobatnya. Perbincangan itu dilakukan secara santai, tanpa menekan orang yang pernah mengaku rasul itu. Selain itu, diskusi dilakukan secara rahasia. Hal ini dilakukan karena tidak ingin perhatian publik justru nanti menjadi bumerang.Dalam kesempatan itu pun Moshaddeq diingatkan bahwa banyak pengikutnya menjadi korban tindakan kekerasan. "Dia orang yang cerdas, pemahaman agamanya sangat bagus juga sejarah islamnya, karena dia mendalami ini sejak tahun 70-an. Kalau ustadz-ustadz tanggung bisa lewat sama dia," jelas Bachtiar.Tambah lagi Moshaddeq seorang orator ulung, dia juga mempunyai kemampuan berkomunikasi yang handal sehingga mudah membuat lawan bicaranya terpukau. "Makanya pengikutnya banyak dari kalangan menengah dan tersebar di berbagai provinsi," ujar Bachtiar.Pelbagai persoalan dikupas. Mulai dari ajaran Al Qiyadah, hingga hal yang krusial. "Yang menjadi titik diskusi adalah ketika sampai pada persoalan terkait pengakuanya sebagai rasul," tambah Bachtiar.Alasan mendasar pengakuan bahwa dirinya rasul itu menurut Bachtiar karena didasari rasa cinta Moshaddeq kepada Nabi Muhammad SAW. "Dia sangat mengidolakan, bahkan hingga ingin menjadi seperti tokoh pujaannya itu," ungkap Bachtiar.Hingga akhirnya Said Agil, yang sempat membawa kitab kuning, menjelaskan bahwa Muhammad adalah rasul dan nabi terakhir. Dan ini sudah menjadi kesepakatan, ijma para ulama sejak dahulu hingga kini. Cerita punya cerita, Moshaddeq pada pertemuan selanjutnya akhirnya menyampaikan keinginannya bertobat."Kita juga tak menyangka. Saat bertemu dia sudah menyampaikan konsepnya. Kita minta ditulis dalam tulisan tangan, agar tidak dikesan ada rekayasa," jelas Bachtiar.Perasaan lega dan haru lantas menyelimuti para 'negosiator' itu. Usaha mereka untuk mengajak kembali Moshaddeq membuahkan hasil. "Dia ini bisa menjadi aset untuk berdakwa karena dia mempunyai kemampuan," tambah Bachtiar.Moshaddeq pun mengutarakan isi hatinya untuk tidak ditinggalkan. Dia berkeinginan untuk terus dibimbing dan berdiskusi. Dan para 'negosiator' ini hingga kini terus berlanjut menjalin kontak.
(ndr/fiq)











































