Budayawan Nilai Gelar untuk Sri Sultan Pertanda Baik
Sabtu, 10 Nov 2007 21:57 WIB
Palembang - Sri Sultan Hamengku Buwono X memperoleh gelar Datuk Pengayom Seri Wanua dari masyarakat Sumatera Selatan. Peristiwa ini dinilai sebagai pertanda baik bagi kebangkitan Indonesia.Penilaian ini disampaikan oleh budayawan Djohan Hanafiah di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (10/11/2007)."Ini mengulang peristiwa penting sekian abad lalu. Ini dapat diartikan lahirnya monumen baru, setelah monumen nusantara berupa Borobudur. Ini juga dapat diartikan mempertemukan dua kiblat kebudayaan yang pernah berkuasa di nusantara yang diwakili Sriwijaya dan Mataram Kuno," kata Djohan.Sementara itu Sultan Palembang, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin yang juga hadir dalam acara bercerita, penganugerahan ini seperti kejadian puluhan abad lalu, ketika dinasti Syailendra dari Sriwijaya dan dinasti Sanjaya membangun candi Borobudur sebagai simbol perdamaian, atau antara kerajaan Islam Palembang dengan Mataram yang sama-sama dari Demak.Kisahnya, kata Sultan Palembang, dinasti Syailendra sebagai pengikut Budha memiliki kekuatan politik di Jawa sekitar 780 masehi, setelah mereka menggantikan dinasti Sanjaya pengikut Hindu. Mereka mengalami persaingan politik, tapi bukan agama, sebab masih terjadi perkawinan antara wangsa Syailendra maupun Sanjaya.Sebagai tanda damai, mereka membangun candi Budha, misalnya candi Borobudur. Sayang, Balaputra Dewa yang bercita ingin menjadi pemimpin besar dikalahkan dinasti Sanjaya pada 850 Masehi. Balaputra Dewa kemudian bergabung dengan kerajaan Sriwijaya di Palembang.Tak lama kemudian Sriwijaya kian menjadi besar di Nusantara. Kisah lain, yang menghubungkan Sumatera Selatan dengan Yogyakarta, yakni ketika keturunan Aria Penangsang yang lari ke Palembang mendirikan kerajaan Islam Palembang.Sebelumnya Aria Penangsang berseteru dengan Jaka Tingkir guna memperebutkan mahkota Demak. Lalu, Aria Penangsang tewas di tangan Ki Pamanahan yang selanjutnya menjadi Panembahan Senapati Mataram. Para keturunan Aria Penangsang kemudian lari ke Surabaya, dan selanjutnya ke Palembang. Bersama masyarakat Melayu, mereka mendirikan kerajaan Islam Palembang."Jadi, Palembang (Sumsel) dan Yogyakarta merupakan dari titisan yang sama yakni kerajaan Demak," kata Sultan Palembang, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, di kediaman Gubernur Sumsel Syahrial Oesman."Guna membangun masa depan, mari kita lupakan yang buruknya, dan kita junjung yang baiknya, seperti mempertahankan negara ini dengan melestarikan adat-istiadat yang ada," timpal Sri Sultan Hamengku Buwono X.
(tw/ken)











































