Inilah Jurus Kalla Bisa Jadi Pendamping SBY
Jumat, 09 Nov 2007 23:37 WIB
Jakarta - Jusuf Kalla membocorkan rahasia bagaimana dirinya bisa bisa menjabat sebagai wakil presiden. Padahal ketua umum Partai Golkar itu tidak dipilih dalam konvensi capres."Saat itu saya berpikir, jika saya maju sebagai presiden tidak gampang. Meski menang dalam konvensi Partai Golkar, sulit untuk jadi presiden," ungkap Kalla.Hal tersebut disampaikan Kalla saat memberikan sambutan dalam peluncuran buku 'Harakiri Politik Tokoh Nasional dan Elit Golkar' karya Ketua DPP Golkar Burhanuddin Napitupulu di Geudng Lemhannas, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (9/11/2007).Menurut Kalla, dirinya sempat berbicara dengan Akbar Tanjung, ketua umum Golkar saat itu, untuk membahas peluangnya jika maju dalam Pilpres 2004. "Dia bilang mundur saja," ujarnya.Padahal, lanjut Kalla, saat pemilu legislatif, Golkar berhasil menjadi pemenang. Atas dasar itu, Kalla mulai menghitung peluang dirinya untuk maju dalam pilpres."Saya yakin, jika mendapat calon yang tepat, maka akan mendapat minimal 60 persen suara," tuturnya.Kalla pun mengaku enggan mengikuti konvensi yang sedang digelar partainya. "Itu kan berarti harus keliling-keliling. Itu akan menghabiskan dana banyak sekali," tuturnya.Salah satu cara yang digunakan Kalla saat itu adalah mendekati mantan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu SBY memang mengundurkan diri karena ada konflik dengan Presiden Megawati."Setelah pak SBY mundur, langsung saya temui. Dia bilang kalau kita ada kesempatan, mohon dibantu. Saya bilang siap untuk membantunya," ujarnya.Menurutnya, saat itu banyak sekali pinangan dari parpol lainnya, seperti PDIP. Mengingat Golkar dan PDIP adalah 2 partai yang memiliki suara terbesar dalam pemilu legislatif."Tapi dulu Partai Golkar dan PDIP tidak punya chemistry," jelasnya.Setelah deal dengan SBY, lanjut Kalla, dirinya hanya memikirkan untuk menjadi wapres saja. "Dengan perhitungan bakal dapat 60 persen suara, dan juga perhitungan pendukung Amien Rais tidak mungkin lari ke Mbak Megawati, dan pendukung Pak Hamzah Haz juga tidak bakal lari ke Bu Mega. Saya yakin untuk maju," jelasnya.Setelah 'menikah' dengan SBY, Kalla pun lantas kembali meminta izin dari Akbar Tanjung. "Apa pun yang terjadi, saya tetap kader Golkar. Tapi kita selesai sampai di sini," jelasnya.Akhirnya keinginan Kalla pun terwujud. Pasangan SBY-JK pun berhasil meraup suara terbanyak, meski harus melalui 2 putaran."Jadi harakiri bisa dihindari dengan logika," pungkasnya.
(ary/gah)











































