Suciwati Pernah Diminta Anggota BIN Kejar SK Polly
Rabu, 07 Nov 2007 14:34 WIB
Jakarta - Sebelum Munir diracun, seorang anggota BIN bernama Bjah Soebijakto, berkali-kali ngotot ingin bertemu. Namun pertemuan tidak pernah terjadi. Belakangan Bjah minta janda Munir, Suciwati, mengejar SK pengangkatan Pollycarpus sebagai anggota BIN.Soal Bjah ini disampaikan janda Munir, Suciwati, saat bersaksi dalam sidang dengan terdakwa eks Dirut Garuda Indra Setiawan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Gadjah Mada, Jakarta, Rabu (7/11/2007). Bjah kemudian dinonaktifkan."Almarhum dulu sering bercerita seperti itu (Bjah ingin bertemu). Bahkan rekannya pun yang bernama Robby mengatakan hal yang sama. Makanya saya kemudian menemui Bjah bersama orang-orang Kontras dan Imparsial," tutur Suci.Dalam pertemuan sekitar November-Desember 2004 itu, Suci kemudian menanyakan kenapa Bjah ingin sekali bertemu Munir. Alasan Bjah, karena dia ingin berdiskusi banyak dengan Munir yang dianggap kritis dan pemuda yang pemberani. Bjah juga menanyakan kasus terakhir apa yang sedang ditangani Munir. Suci menjawab kampanye pilpres 2004. Suci dan koleganya bertemu Bjah dua kali. Pertama di sebuah kafe di Menteng dan terakhir di restoran sebuah hotel."Waktu itu saya juga menanyakan apakah benar Polly dianggap sebagai anggota BIN, karena waktu itu beredar berita yang seperti itu. Dia menyuruh saya terus mengejar SK pengangkatan itu," tutur Suci.Dari situ, Suci menyimpulkan memang ada surat pengangkatan Polly sebagai anggota BIN. "Berarti ya maksudnya seperti itu, karena disuruh mengejar," kata Suci sambil menambahkan Bjah dulu aktif di deputi VII BIN.Tidak lama setelah pertemuan, kata Suci, Bjah dinonaktifkan. Saat hakim menanyakan apakah Suci mengenal Polly, Suci menuturkan, Polly memang pernah beberapa kali menghubungiHP Munir. Bahkan dia sempat mengangkat telepon dari Polly saat HP Munir ketinggalan di rumah.Namun Suci menilai Polly orang yang sok akrab. Di telepon, Polly pernah mengatakan sama-sama berasal dari Surabaya.Suatu kali di bandara, Polly juga pernah menawari Munir apakah akan menitip sesuatu saat Munir akan berangkat ke Swiss. Namun tawaran Poly ditolak, karena Munir curiga.Suci juga sempat ditanya hakim apa Munir pernah mendapat ancaman."Ancaman sih sudah biasa, pernah rumah kami dilempar bom 2 kali yang di Malang dan Bekasi. Surat, telepon ancaman banyak sekali, begitu juga kantor Kontras," katanya.Ancaman akrab dengan Munir karena aktivitasnya sebagai pejuang HAM. Suci menuturkan, Munir pernah mem-PTUN-kan Megawati karena mengangkat Hendropriyono sebagai kepala BIN, mengkritisi RUU intelijen, mengkritisi perkataan Hendro yang pernah menuding 20 LSM asing dan dalam negeri yang bisa membahayakan negara.
(umi/nrl)











































