Pondok Indah yang Tak Cantik Lagi
Rabu, 07 Nov 2007 14:15 WIB
Jakarta - Dulu, melintasi jalan arteri Pondok Indah, Jakarta, terasa nyaman. Pohon palem yang berdiri gagah di pinggir dan pembatas jalan memberi kesan pemandangan di Los Angeles, Amerika Serikat. Tapi... itu dulu.Dulu, kawasan elit ini menjadi tempat favorit anak nongkrong. Ada Mal Pondok Indah, Masjid Pondok Indah yang setiap akhir pekan ramai digelar resepsi pernikahan, lapangan golf, permainan gokart, hingga sekolah elit seperti Jakarta International School (JIS).Kalau soal macet, dari dulu jalan Pondok Indah memang sudah macet. Terutama jam berangkat kerja dan pulang kerja setiap harinya. Puncak kemacetan biasanya terjadi setiap Jumat dan Sabtu malam. Kendaraan banyak yang menuju ke Lebak Bulus.Jika sudah begitu, biasanya pengemudi kendaraan pribadi mencari jalur alternatif alias jalan tikus. Ya itu, melintasi rumah-rumah gedongan berpilar yang mayoritas bercat putih, namun penghuninya jarang terlihat. Sambil berkendara, pemandangan patung dan pohon hijau di pinggir jalan membuat mata adem.Lebih menyenangkan lagi, kaki tidak usah capek-capek bergantian menginjak kopling, gas dan rem. Dan wuuushhh... hanya dalam hitungan beberapa menit kita sudah bisa berada di jalan Ciputat, dan bisa keluar langsung menuju pintu tol ruas TB Simatupang . Bisa terbayang jika harus berjibaku di kemacetan jalan arteri Pondok Indah.Tapi sekali lagi, itu dulu, sebelum proyek busway menyapa jalan ini pada Oktober 2007. Sekarang, semuanya serba semrawut. Melewati jalan arteri Pondok Indah, sama saja mencari penderitaan.Tidak pagi, siang, maupun malam, yang ditemui hanya kemacetan, kemacetan dan kemacetan. Dua lajur yang biasanya terbentang, kini hanya tinggal satu lajur. Dulu yang biasanya pengendara motor bisa bergerak lincah di antara kemacetan mobil, kini harus bernasib sama. Terjebak macet!Pohon palem yang dulu indah menaungi Pondok Indah dari teriknya sinar matahari, satu per satu berstatus almarhum. Menyedihkannya lagi, adanya penggalian untuk serat optik. Tanah galian berceceran di mana-mana. Jika hujan mengguyur, beceknya minta ampun. Jika matahari terik, debunya mana tahaann... tidak sedap dipandang mata.Inilah pengorbanan untuk sebuah moda transportasi darat yang bernama busway. Ketika pembetonan busway sudah beres, dan bus TransJakarta beroperasi di kawasan elit itu, semoga kemacetan yang membuat pegal kaki dan hati itu terbayar lunas. Jika tidak, buat apa ada busway?
(ana/sss)











































