Rino Selalu Berzikir dan Berdoa

Asdos Tewas di Thailand

Rino Selalu Berzikir dan Berdoa

- detikNews
Selasa, 06 Nov 2007 14:23 WIB
Rino Selalu Berzikir dan Berdoa
Yogyakarta - Sosok asisten dosen (asdos) Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Rino Cahyadi, dikenal rekannya sebagai sosok yang relijius. Pria yang memiliki seorang anak berusia 4 bulan itu tak pernah alpa berdoa dan berzikir.Itulah kesan dari dosen UGM, Prof Suratman, yang selamat dari kecelakaan speed boat di Pattaya, Thailand. Suratman menyampaikan hal itu menjelang jenazah Rino dibawa menuju pemakaman dari rumah duka di Dusun Tegalasem, Desa Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, Selasa (6/11/2007)."Kami berempat berangkat Jumat sore. Ini merupakan tugas negara untuk mengembangkan ilmu. Selama perjalanan hingga sampai hotel tempat konferensi internasional berlangsung, Rino selalu berbicara mengenai agama," kenang Suratman yang didampingi wakil dekan UGM, Dr Pramono Hadi. Tampak pula 2 dosen UGM peserta konferensi internasional tentang tsunami dan kebencanaan di Thailand yang juga selamat dari musibah itu, Dr Junun dan Langgeng.Menurut Suratman, pada hari pertama konferensi, Rino menyampaikan presentasinya dengan sangat lancar. Rino pun mendapat apresiasi dari seluruh peserta konferensi yang dihadiri wakil dari Vietnam, Bangladesh, dan Thailand itu."Presentasinya luar biasa," imbuhnya.Mata Suratman pun berkaca-kaca saat melanjutkan kalimatnya. "Saat perjalanan malam, dia tidak lupa berdoa dan berzikir untuk kami bertiga. Yang dibicarakan selalu agama karena kita ini selalu banyak dosa," ujar Suratman.Tanpa PelampungKecelakaan yang terjadi Minggu 4 November lalu tidak pernah terbayangkan oleh Suratman. Saat itu, aktivitas mereka tengah melakukan penelusuran di wilayah pantai Pattaya. "Beberapa tempat telah dikunjungi di antaranya muara sungai Chao Phraya, Sammut District. Ini merupakan tempat Profesor Tanavat (ahli geologi dari Universitas Chulalongkorn Thailand) untuk meneliti masalah abrasi laut, yang telah menenggelamkan sebuah pemukiman di pinggir pantai Thailand," urai Suratman.Rino, Suratman, Junun dan Langgeng menumpang kapal yang tidak lengkap peralatannya. "Kelengkapannya tidak ada, termasuk pelampung," jelasnya.Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 5 km. "Sangat melelahkan sekali. Tidak diberitahukan sebelumnya bahwa kami ternyata melewati hutan dan jalanan yang sempit," jelas Suratman.Namun saat kapal sampai dekat pelabuhan, tiba-tiba kapal menabrak sisa bangunan daerah yang tenggelam itu. Kapal pun terbalik dan mereka berusaha menyelematkan diri."Itu kejadian yang tidak kami duga, dan dalam hitungan menit kapal yang pecah tenggelam," ujarnya.Saat itu, kata Suratman, dia sudah tidak lagi mendapati Rino. "Kami sudah berusaha mencarinya, namun tidak dapat," sesal Suratman.Tepat pukul 13.00 WIB, iring-iringan pengantar jenazah berangkat ke pemakaman keluarga yang berjarak 7 km dari rumah duka. (fiq/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads