Musharaf Dikecam, Demonstrasi Besar Ancam Pakistan
Minggu, 04 Nov 2007 06:00 WIB
Jakarta - Kebijakan Presiden Pakistan Pervez Musharaf yang membekukan konstitusi menuai kecaman. Serangan datang dari pihak oposisi dan lawan-lawan politiknya."Ini bukan keadaan darurat.Ini tangan besi dan mayarakat Pakistan akan memprotes dan melakukan perlawanan," kata mantan PM Pakistan Benazir Bhutto dalam jumpa pers di Karachi, Pakistan seperti dikutip AFP, Minggu (4//11/2007).Selain Bhutto, berbagai komentar lainnya pun berdatangan. "Tindakan ini akan memicu terjadinya tindakan kekerasan oleh kaum militan," kata pengamat politik dari Universitas Lahore Rasul Baksh Rais.Hal senada pun diungkapkan Nawaz Sharif, yang juga mantan PM Pakistan. Menurut dia tindakan yang diambil Musharaf ini justru akan menimbulkan anarki di Pakistan.Selain dari dalam negeri, kecaman terhadap Musharaf yang memberlakukan keadaan darurat pun datang dari sekutu dekatnya, negeri Paman Sam. "Sangat mengecewakan," kata juru bicara Gedung Putih Gordon Johndroe.Dan pemerintah Inggris juga menyatakan ketidaksetujuannya atas kebijakan Musharaf ini. "Kami memberikan perhatian atas kebijakan ini, dan kami menyatakan penyesalan," ujar seorang staf pemerintah Inggris.Alasan Musharaf melakukan keadaan darurat yakni meningkatnya serangan kaum militan dan lembaga yudikatif, MA yang dianggapnya sudah keterlaluan. Tak heran setelah kebijakan diberlakukan, dia langsung beupaya mengganti Ketua MA Muhammad Chaudry. Ini dikarenakan MA berusaha membatalkan kemenangan Musharaf pada pemilu Oktober lalu.Sementara itu polisi dan tentara terus berjaga-jaga di setiap sudut kota Islamabad. Seluruh aktivitas televisi, radio, dan koran dibekukan, atau pun dihentikan siarannya. Dan seluruh jaringan komunikasi dimatikan sementara.
(ndr/)











































