Ikut Alquran Suci, Perekrut Jadi Ibu Hakiki

Ikut Alquran Suci, Perekrut Jadi Ibu Hakiki

- detikNews
Sabtu, 03 Nov 2007 13:52 WIB
Bandung - Para korban kelompok Alquran Suci terus memberikan pengakuan. Seorang korban, mengaku dibawa ke tempat pengajian mereka dengan mata tertutup kain. Setelah bergabung, orang tua pun menjadi musuh.S (20), menceritakan kisahnya dalam pengajian Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) di Masjid Al Fajar, Jl Cicagra, Bandung, Sabtu (3/11/2007). Acara ini turut dihadiri keluarga Dwi Aryani dan Ria Riyani.S mengaku bergabung dengan kelompok ini 4 bulan silam. Namun S tidak menyebut nama kelompoknya Alquran Suci tetapi Al Haq. Pada awal bergabungnya S, karyawan departemen store di Bandung ini sedang pulang kerja saat didekati dua perempuan yang mengajaknya berkenalan."Mereka lalu mengajak saya mengaji, karena saya sibuk bekerja. Saya dibikinkan janji bertemu 2 minggu kemudian," kata S.Pada saat yang dijanjikan, S pergi dengan bus Damri dari Kebon Kalapa menuju kampus Universitas Islam Negeri Gunung Jati Bandung. Kedatangan S sudah ditunggu. Dari kampus itu S diajak naik kendaraan umum."Mata saya ditutup kain dan dipakaikan kaca mata hitam. Saya tidak tahu dibawa kemana, lalu saya sudah ada di sebuah kamar. Saya langsung diberikan pelajaran-pelajaran," jelas S.Menurut S, dirinya dianjurkan melaksanakan iman, hijrah dan jihad. Ada lebih dari satu orang yang seperti dia dan semuanya perempuan. Mereka diminta mengucapkan janji setia untuk merahasiakan keanggotaannya termasuk terhadap orang tua. Mereka yang keluar diancam hidupnya terlunta-lunta, gila dan keluarganya berantakan.Ajaran mereka tampak meyakinkan karena selalu menyitir ayat-ayat Al Quran untuk meminta keikhlasan berkorban harta dan jiwa. Sebagai bentuk penyucian diri, S membayar Rp 250.000. Namun selanjutnya masih ada lagi iuran bulanan."Jumlahnya sukarela, tapi saya memberi Rp 50.000," imbuhnya.Tempat pengajian selalu berpindah-pindah. 1 Mentor menangani 1 murid, mentor pun selalu berganti-ganti dan semuanya perempuan. Ada yang dipanggil Lina atau Dina, namun S tidak yakin jika itu nama sebenarnya."Saya diajarkan kalau ibadah kita selama ini hanya ritual, begitu juga rukun Islam. Mereka tidak melarang salat, tapi yang lebih penting kegiatan mereka. Ibu yang hakiki adalah orang yang merekrut kita, disanalah letaknya surga," jelas S.Menginjak bulan kedua, S mulai merasakan keanehan dengan kegiatannya. "Mereka yang berada di luar kelompok bahkan orang tua adalah musuh," kata S.S memutuskan keluar dan dia dikejar-kejar ke tempat kost dan tempat kerja. Mereka menakut-nakuti S dirinya akan celaka karena telah keluar. S juga diancam tidak membocorkan kegiatan mereka. S lalu melapor ke FUUI."Saya masih trauma dan takut kalau jalan sendirian. Saya langsung bergabung dengan teman-teman lain," pungkas S.S yang mengenal Dwi Aryani menyesal tidak sempat memberi tahu dirinya telah keluar dari pengajian. S kini tidak tahu keberadaan Dwi dan tidak bisa menghubunginya. (fay/aan)


Berita Terkait