22-55% Wanita Lansia Indonesia Terkena Osteoporosis
Jumat, 02 Nov 2007 06:03 WIB
Jakarta - Wanita usia 50 tahun ke atas rentan terkena osteoporosis. Di Indonesia jumlah wanita lansia penderita osteoporosis makin meningkat. Hasil itu dipaparkan Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Prosi) pada hari osteoporosis dunia di Dubai, UEA, 21 Oktober 2007 lalu. Prosi sebagai anggota International Osteoporosis Foundation (IOF) melakukan penelitian di 12 kota di Indonesia, diantaranya Jakarta, Bandung, dan Surabaya."22-55 Persen wanita lansia Indonesia terpengaruh osteoporosis," kata Ketua Umum Prosi Prof dr Ichramsjah A Rachman dalam jumpa pers dalam rangka memperingati hari osteoporosis nasional di Kantor Depkes, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (1/11/2007).Jika diubah dalam angka, lanjut dia, maka sekitar 8,5 juta lansia yang mencapai total 17 juta dari 222 juta penduduk Indonesia. Seiring meningkatnya jumlah penduduk menjadi 261 juta pada tahun 2020 maka jumlah penderita akan meningkat menjadi 5-11 juta. Dan dengan pendududk 273 juta pada 2050 maka jumlah penderita menjadi 5,2-11,5 juta.Tidak sampai di situ, 30-40 persen wanita lansia atau sekitar 5,1-6,8 juta terkena osteopenia. Jumlah itu diperkirakan akan meningkat pada tahun 2020 menjadi 6-8 juta dan meningkat lagi pada tahun 2050 dari menjadi 6,3-8,4 juta."Osteopenia atau hilangnya sejumlah massa tulang adalah kondisi awal osteoporosis. Osteopenia seperti lampu kuning, hati-hati menjadi lampu merah," jelasnya.Masalahnya, biaya untuk memperbaiki patah tulang cukup tinggi. Menurut IOF biaya termurah di Indonesia adalah US$ 1.400 atau Rp 14 juta hingga US$4.700 atau sekitar Rp 50 juta.Jika 25 persen dari 4,25 juta wanita lansia yang patah tulang maka biaya kesehatan akan mencapai US4 1,48 juta dan akan meningkat menjadi US$ 1,75 juta pada 2020 dan mencapai US$ 1,82 juta pada 2050.Sementara untuk alat diagnostik Dexabone Densitometer, menurut penelitian hanya ada 1 unit untuk melayani 6 juta orang di Indonesia. Di indonesia sendiri, lanjutya, baru memiliki 23 unit alat ini. 18 di antaranya di Jakarta sisanya di daerah."Idealnya 1 unit melayani 400 ribu samnpai 500 ribu orang," pungkas Ichram.
(gah/gah)











































