Duh! Bocah-ABG Myanmar Diciduk dan Dijadikan Tentara
Rabu, 31 Okt 2007 10:50 WIB
New York - Kepedihan di Myanmar bak tak berkesudahan. Junta Myanmar menunjukkan taringnya lagi. Bocah dan ABG yang ditemui di jalanan diciduk dan dipaksa menjadi tentara.Anak-anak 10 tahun diperjualbelikan ke perekrut tentara. Ini gara-gara junta Myanmar kekurangan sukarelawan tentara. Demikian laporan Human Rights Watch (HRW) yang dipublikasikan di New York, AS, seperti dilansir AFP, Rabu (31/10/2007).Prakteknya, warga sipil mendapat duit dan insentif dari tentara untuk setiap rekrutmen baru.Para perekrut yang tak memenuhi kuota yang ditetapkan pemimpinnya bersikap membabi buta. Anak-anak yang ditemui di kereta, bus, pasar, dan tempat publik lainnya menjadi target.Anak-anak itu diciduk dan diancam jika menolak bergabung ke militer. Sejumlah anak-anak bahkan dipukuli sampai mereka menyatakan setuju bergabung.Laporan berjudul "Sold to be Soldiers: The Recruitment and Use of Child Soldiers in Burma" itu menyebutkan ada ribuan anak-anak yang menjadi korban."Mereka mengisi formulir dan menanyakan berapa umur saya, lalu saya jawab 16 tahun. Saya ditampar, lalu dipaksa menjawab 18 tahun," kata Maung Zaw kepada HRW. Ini merupakan yang kedua kalinya bagi Maung Zaw dipaksa ikut militer.Seorang bocah lainnya mengaku dipaksa masuk militer saat berusia 11 tahun. Saat itu tingginya hanya 1,3 meter dan berbobot hanya 31 kg."Pemimpin Junta Myanmar Jenderal Senior Than Shwe menolerir rekrutmen anak-anak, dan gagal menghukum pelaku kejahatan. Perekrutan anak-anak menjadi tentara ini memang diperkenankan," kata Jo Becker, pengacara hak anak-anak untuk HRW.HRW pun mendesak DK PBB mempertimbangkan kemungkinan pelarangan suplai senjata dan bantuan militer ke Myanmar. Sebab rekrutmen anak-anak sebagai tentara merupakan pelanggaran.
(sss/ana)











































