Impian Keluarga Sri Pindah ke Nabire Pupus Sudah
Selasa, 30 Okt 2007 13:40 WIB
Surabaya - Keluarga Sri Hayati, korban aliran Al Qiyadah yang menghilang, berencana ingin pindah ke Nabire untuk memperbaiki nasib mereka. Namun, kini Sri Hayati telah mengilang, semuanya pun sirna.Sehari-hari kehidupan keluarga kedua orangtua Sri Hayati, Gunawan (37) dan Miayah (34) warga Nginden Jaya I No 43 Surabaya sangat sederhana. Mereka baru 3 bulan kos di kawasan Nginden Jaya I No 43 Surabaya dan ingin merubah nasibnya di kota metropolitan.Sebelumnya, Gunawan bekerja sebagai sopir angkot di Malang dan sehari-harinya bertempat tinggal di di Desa Sukodadi Kecamatan Wagir, Malang.Setibanya di Surabaya, Gunawan bekerja serabutan dan dan istrinya menjadi pembantu rumah tangga di sebuah rumah di kawasan Intan Timur Surabaya.Gunawan yang sudah 16 tahun menikah, menyewa sebuah kamar yang berukuran 3X3 seharga Rp 160 ribu per bulannya. Tempat tersebut ditempati 4 orang yakni, Gunawan, Miayah, Sri Hayati dan Joni yang masih berusia 10 tahun.Rencananya, keluarga Gunawan akan pindah ke Nabire Papua untuk bekerja menjadi penjaga toko sembako. "Kami ditawari majikan istri saya untuk bekerja di Nabire Papua dan berangkat 1 November 2007 mendatang. Rencananya Sri akan menjaga toko, istri saya menjadi pembantu dan dan saya sendiri menjadi sopir," tambahnya saat ditemui detiksurabaya.com, Selasa (30/10/2007).Dengan kondisi saat ini, kata dia, keluarganya tidak tahu lagi harus berangkat ke Nabire atau tidak.Bahkan, adik kandung Sri Hayati yang semula sekolah di Malang dan duduk di SD kelas IV menolak kembali ke Malang dan memilih tinggal di Surabaya menunggu kakaknya pulang.Sementara, ciri-ciri Sri Hayati memiliki tinggi 160 centimeter, kulit kuning langsat, rambut sebahu, 1 tahi lalat di pipi bagian kiri dan 2 tahi lalat di tangan kirinya.
(mar/mar)











































