Diwawancara Wartawan, Lia Eden Tanya Tuhan Dulu

Diwawancara Wartawan, Lia Eden Tanya Tuhan Dulu

- detikNews
Selasa, 30 Okt 2007 11:20 WIB
Diwawancara Wartawan, Lia Eden Tanya Tuhan Dulu
Jakarta - 2 Tahun menjalani hukuman, tak sedikit pun menggoyahkan keyakinan Lia Eden. Pimpinan komunitas Eden itu tetap tampil dengan jubah putih kebesarannya, ikat kepala dan selendang hijau. Tutur katanya lembut dan terjaga. Usai dibebaskan dari Rutan Pondok Bambu, Lia dan sejumlah pengikutnya segera meluncur ke 'kerajaannya' di Jl Mahoni, Bungur, Senen, Jakarta Pusat. Mereka tiba sekitar pukul 09.00 WIB, Selasa (30/10/2007).Puluhan warga sudah berkerumun, demikian juga dengan belasan anggota Polsek Senen yang disiagakan. Begitu menginjakkan kakinya di depan rumahnya, Lia dengan ramah menyalami sejumlah tetangganya.Bahkan, perempuan yang pernah berprofesi sebagai perangkai bunga itu sempat menyapa belasan wartawan yang sudah menantinya. "Bagaimana kabarnya?" tanya wanita yang pernah mengaku sebagai Imam Mahdi itu.Lia kemudian mempersilakan wartawan masuk dan duduk di teras rumah sambil menyuguhkan minuman sirup berwarna hijau dan kue bolu.Berikut petikan wawancara dengan Lia Eden:Bagaimana kabarnya, Bu?Mohon maaf, saya tidak bisa diwawancarai karena tidak diperkenankan membela diri. Nanti biar Tuhan yang membela. Kalau kita ngomong tidak dipercaya, nanti bisa salah paham.Sampai kapan tidak bisa diwawancara?Selama-lamanya. Semoga pers bisa mengerti kami itu bukan jual mahal atau mempersulit ditemui. Perjalanan yang kami lakukan ini bukan langkah kami, tapi perintah Tuhan.Apa akan tetap tinggal dan melakukan kegitan ritual di sini?Iya, ini rumah saya.Ada ritual apa setelah bebas?Biasa saja. Hanya sujud dan doa syukur dibebaskan.Saat ini banyak aliran sesat muncul, komentar Ibu?Mohon maaf saya tidak berkenan menjawab hal itu.Kalau ada yang tidak suka ritual Ibu dan kembali memperkarakan Ibu?Saya kan sudah dipenjara, masa dipenjara lagi. Jumlah pengikut saya cuma 48, tidak berbahaya. Bisa bertambah nggak jumlah pengikut?Sebentar saya tanya Tuhan dulu. (Selama 30 detik, Lia kemudian memejamkan mata sambil menundukkan kepalanya dan berkomat-kamit). Waduh (pengikut) kami tidak bertambah. Mempertahankan yang ada saja sulit. Malah yang keluar itu ada. Keluar karena apa?Mereka tidak kuat karena beratnya pensucian yang harus dilakukan sehingga mereka tidak sanggup. (bal/nrl)


Berita Terkait