Pengamat dari AS: Kecil Peluang TNI Melakukan Kudeta
Senin, 29 Okt 2007 19:59 WIB
Jakarta - TNI dinilai kecil kemungkinan melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang berjalan. Sebab, militer Indonesia sangat mengerti soal bahaya kudeta bagi mereka sendiri."Ada satu dua momen di mana mereka sebenarnya bisa mengambilalih kekuasaan mereka, tapi tidak mereka lakukan. Mereka mengerti hal seperti ini berbahaya buat mereka," ungkap Direktur Pusat Studi Demokrasi Columbia University New York, Alfred C Stefan, usai ceramah umum di Kantor Departemen Pertahanan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (29/10/2007).Diakui Stefan, ada momen yang menjadi godaan tersebut. Contohnya saat Pemilu tahun 2004, 2009. "Tapi mereka tidak melakukan itu, hal itu sangat mengesankan," jelasnya.Dicontohkan dia lagi, saat perjanjian damai di Aceh, ini fakta bahwa militer membiarkan dan mengizinkan. TNI juga memiliki sikap keterbukaan tentang konsensi seperti apa yang diperlukan untuk dibuat untuk bisa hidup secara damai di alam demokrasi. "Hal seperti itu sangat tidak sama bagi India-Pakistan di mana mereka tidak pernah mampu membuat penyelesaian soal Khasmir, sementara orang terus terbunuh setiap hari," ujar Stefan.Stefan terkesan dengan berkuasanya militer di Indonesia selama 30 tahun di masa Orde Baru. Terutama saat reformasi terjadi pada tahun 1998-1999, di mana TNI keluar dari DPR dan melepaskan dwifungsi ABRI serta pemisahan Polri dan TNI. "Di dalam banyak negara, militer masih belum melakukan itu," tegas dia."Berbeda dengan negara seperti di Amerika Latin dan beberapa negara berkembang lainnya yang sering terjadi konflik di antara militernya itu, saya mau katakan mereka (TNI) punya self respect untuk tidak mengatakan militer satu-satunya penyelamat negara, sikap itu bisa membahayakan sebagai teroris demokrasi," imbuh Stefan.Sementara itu, Menhan Juwono Sudarsono mengatakan, Stefan memang telah melakukan perbandingan perkembangan transisi demokrasi politik, baik di Amerika Latin, Arab, Turki, India, Srilangka dan sejumlah negara lainnya. "Sekarang beliau sedang memperhatikan perkembangan Indonesia, terutama berkaitan dengan demokrasi, agama dan perdamaian," jelas Juwono.Ditambahkan Juwono, perbandingan seperti itu sangat bagus. Bahkan Indonesia seperti dikatakan oleh Stefan sebagai memiliki prestasi yang lebih dari harapan soal pencapaian transisi demokrasi. Justru saat ini bagaimana mempertahankan kondisi yang sudah ada, yaitu melakukan perbaikan di bidang ekonomi. "Demokrasi politik harus diperkuat dengan demokrasi ekonomi dan hukum," ujar dia.
(zal/asy)











































