Nasionalisme Pemuda Rendah Akibat Kebebasan Informasi
Minggu, 28 Okt 2007 08:38 WIB
Jakarta - Tak ada gegap gempita atau perayaan meriah dalam peringatan 79 tahun Sumpah Pemuda pada hari ini. Bahkan kaum muda yang peduli akan makna peristiwa ini pun bisa dihitung dengan jari.Tepat hari ini, 28 Oktober, 79 tahun lalu rapat pertama para pemuda dalam Kongres Pemuda II digelar di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dll. Bahkan di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond.Peristiwa ini dikenang dalam lembaran sejarah sebagai cikal bakal perjuangan pemuda Indonesia dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Dalam kongres ini pula untuk pertama kalinya diperdengarkan lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman.Sayangnya, kian tahun, momentum peringatan Sumpah Pemuda seperti kehilangan maknanya. Hanya sedikit kaum muda yang peduli, bahkan itu pun lebih bersifat seremonial. Rasa kebangsaan, nasionalisme dan patriotisme telah tergusur oleh budaya hura-hura. Memang tidak semua kaum muda Indonesia semuanya seperti itu.Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Hasanuddin Yusuf menganalisis, lunturnya nilai-nilai kebangsaan di kalangan kaum muda dikarenakan arus informasi global yang begitu hebat merasuki."Nilai-nilai seperti itu dianggap sudah ketinggalan zaman. Kebebasan yang muncul di era reformasi telah mengikis semuanya," ujar Hasanuddin dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu, (28/10/2007).Hal itu, lanjut dia, diperparah dengan penanaman nilai-nilai kebangsaan dengan cara yang salah. "Pancasila diajarkan secara dogmatis oleh rezim orde baru. Ketika reformasi bergulir hal-hal yang sebenarnya baik itu malah dianggap merupakan produk orde baru yang akhirnya ditentang," ungkapnya.Hasanuddin juga mengkritisi kaum muda yang terjun ke dunia politik. Tidak ada kontribusi yang mampu diberikan politisi muda tersebut. "Lebih banyak yang pragmatis dengan kepentingan jangka pendek," imbuhnya.Bicara masalah kebangsaan merupakan sesuatu yang bersifat jangka panjang. Ibarat investasi jangka panjang, eksistensi NKRI jika tidak dipertahankan dari sekarang maka jangan harap akan bertahan."Pembangunan karakter nasional menjadi salah satu solusinya. Hegemoni politik oleh kaum tua juga harus diakhiri," tandasnya.
(bal/bal)











































