Kiamat Jika Membuka Surat Ulu

- detikNews
Sabtu, 27 Okt 2007 18:24 WIB
Palembang - Sejarawan di Sumatera Selatan maupun di Indonesia, saat ini masih gelap membaca peristiwa sejarah antara kejatuhan kerajaan Sriwijaya dan bangkitnya kerajaan Islam di Palembang. Tepatnya kurun waktu abad ke-13 hingga ke-15. Sebagian menilai masa kegelapan itu disebut masa berkuasanya para perompak dari Tiongkok yang didukung kekuatan dari Majapahit, tapi sebagian menyakini masa itu datangnya kekuatan Islam di Nusantara setelah di Aceh. Tapi, dua pendapat ini tidak didukung oleh bukti-bukti yang kuat. Artinya, bukti-bukti yang disodorkan masih memiliki ruang kritik yang luas.Dalam 10 tahun terakhir, sebagian peneliti atau peminat sejarah di Palembang mencoba menggali sendiri sumber-sumber sejarah yang ada di Sumatera Selatan, yang salah satunya untuk menjawab masa kegelapan tersebut. Salah satu yang diburu para peneliti itu adalah Surat Ulu. Disebut surat Ulu, sebab naskah yang menggunakan aksara Ka-ga-nga, itu banyak ditemukan di kawasan Ulu atau daerah pedalaman di Sumatera Selatan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu dan Jawi.Menurut peneliti sejarah Bastari Suan, dalam sebuah perbincangan dengan detikcom, Sabtu (27/10/2007), surat Ulu itu saat ini jumlahnya diperkirakan ratusan hingga ribuan. Surat Ulu ini tersebar di berbagai wilayah yang berada di sepanjang Bukit Barisan. Baik yang masuk ke wilayah Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, hingga Jambi. Media surat Ulu ini ada tiga. Ada yang ditulis di atas batu, kulit kayu, dan kertas.Sayangnya, surat Ulu yang banyak dipegang Jurai Tue (Laki-laki, keturunan langsung dari pendiri dusun atau desa) ini sulit didapatkan. Para Jurai Tue tidak mau naskah itu dibaca pihak luar, apalagi buat di-copy atau didokumentasikan. "Bahkan, ada yang percaya jika surat Ulu itu dibaca, dunia akan kiamat," kata Bastari, yang telah menulis buku Sejarah Besemah (1995), dan Atung Bungsu (1997).Surat Ulu yang ditulis dalam kertas, berdasarkan penuturan Jurai Tue, banyak terdapat di Kota Lahat. Surat Ulu banyak menceritakan soal puyang (nenek moyang) setiap kampung atau dusun. Misalnya ada yang menyebutkan mereka berasal dari kerajaan Demak, Majapahit, Palembang, atau Banten.Sementara surat Ulu yang ditulis di atas kulit kayu, dan berbentuk kitab, yang disebut Kitab Kaghas, banyak ditemukan di Kota Pagaralam, Desa Tanjungsakti, Desa Senawai dan Kaur (Bengkulu), dan lainnya. Naskah ini banyak menceritakan soal nilai-nilai kehidupan, tradisi, termasuk asal puyang mereka yakni Atung Bungsu. Bahkan, naskah ini juga mencatat soal ayam jago yang bagus untuk ditarungkan.

(tw/bal)