Garin: Jaga Aset Budaya, Jangan Protes Melulu
Sabtu, 27 Okt 2007 13:54 WIB
Jakarta - Indonesia dan Malaysia kerap kali saling mengklaim kebudayaan asli yang dimiliki. Padahal dua negara serumpun ini memiliki kebudayaan yang tidak jauh berbeda. Menurut sineas Garin Nugroho, rakyat Indonesia dinilai hanya protes saja tanpa disertai upaya menjaga aset budayanya. Indonesia pun diharapkan dapat belajar dari Malaysia dalam menghargai dan menjaga aset budayanya. "Jangan hanya marah-marah saja. Dibutuhkan kemampuan diplomatis dan kerja-kerja organisasi intelektual. Harusnya ada manajemen global untuk melindungi intelektual negara kita. Kita semua cuma punya cita-cita saja dan marah-marah saja," tutur Garin Nugroho.Hal tersebut disampaikan Garin usai acara diskusi "Saatnya yang Muda Memimpin" di Warung Daun, Jl Cikini, Jakarta, Sabtu (27/10/2007).Menurutnya, para politisi di Indonesia pun hanya bisa tersinggung dan melecut emosi rakyat. Tanpa ada upaya memahami untuk melindungi kebudayaan melalui suatu organisasi intelektual."Kita kan harus mendaftarkan dulu, menunjukkan kepemilikan, kemampuan diplomatis, presentasi, politik. Tapi kita cuma punya ide politik dan tidak punya kemampuan keterampilan politik global," tuturnya.Bangsa Indonesia, lanjutnya, dinilai hanya memiliki kebanggaan pada kekayaan, seperti jumlah orang Islam dan aset budaya. Namun, tidak disertai ketrampilan yang menunjukkan rasa bangga memiliki aset budaya tersebut."Hidup dari bangga matilah politik. mati rakyat nanti. Jadi kita rumah penuh kebanggaan dan miskin," pungkasnya.
(ary/umi)











































