Bukan Hanya Melarang, Aliran Sesat Perlu Dirangkul Lewat hati
Sabtu, 27 Okt 2007 08:27 WIB
Jakarta - Berbagai aliran yang menyimpang dari ajaran Islam bermunculan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun mengecapnya sebagai aliran sesat. Hal ini pun lalu ditindaklanjuti dengan pelarangan aktivitas aliran tersebut. Namun selain itu jalan lain lewat ikatan emosional pun patut dicoba."Yang jelas tidak cukup dengan sekedar pelarangan melibatkan aparatur keamanan untuk menangkapi, karena itu tidak menyelesaikan persoalan. Agama harus berbicara dengan bahasa hati," kata pemerhati keagamaan dari Universitas Paramdina Yudi Latif saat berbincang di Jakarta, Sabtu (27/10/2007).Yudi lalu menjelaskan bahwa biasanya para penganut aliran sesat tersebut memilih bergabung dengan berbagai alasan berkiatan dengan kenyamanan. "Mereka menemukan ikatan emosional, pemimpin karismatik, keamanan, dan perlindungan. Untuk itu organisasi keagamaan pun harus mampu menyapa jamaahnya secara intens dan personel," tambah Yudi.Selain itu para penganut aliran itu pun tidak melihat suatu hal secara rasional, aspek emosional adalah yang utama bagi mereka. "Ini bagian dari kritik sosial juga, agama harus mampu menjawab kekeringan batiniah," ujarnya.
(ndr/)











































