16 Pengungsi Kelud Diduga Keracunan Makanan Jatah
Jumat, 26 Okt 2007 11:20 WIB
Kediri - Sedikitnya 16 pengungsi Gunung Kelud yang menempati Balai Pamitran GKJW Desa Tawang, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jumat (26/10/2007) diduga mengalami keracunan makanan yang diberikan Satlak PB Kabupaten Kediri. Namun pihak RSUD Pare tempat pengungsi dirawat, masih belum berani menyimpulkan mereka keracunan. Saat ini dari 16 pengungsi tersebut 3 di antaranya masih menjalani perawatan intensif, sedangkan 13 di antaranya sudah diperbolehkan pulang ke pengungsian. Keracunan ini bermula saat para pengungsi saat pada Kamis (25/10/2007) kemarin para pengungsi mendapatkan jatah makan siang. Namun dari makanan tersebut, mie goreng yang menjadi lauk pauk tampak mengeluarkan lendir, dan nasi putihnya juga sudah tampak basi. "Mienya itu sudah saya sisihkan, tapi nasinya yang basi tetap saya makan," kata Kasmi (50) pengungsi asal Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar. Kasmi mengaku, 6 jam setelah menyantap jatah makan tersebut perutnya terasa mual-mual, dan kepalanya pusing. Selain itu, dia dan beberapa rekan pengungsi lain juga terus-menerus muntah dan berak. Pengakuan serupa juga diberikan Bejan (50) pengungsi lain, yang saat ini masih menjalani perawatan intensif di RSUD Pelem Pare. "Rasanya pengen muntah dan berak terus," kata Bejan. Bejan juga menceritakan, jatah makan siang kemarin terdiri dari nasi putih, mie goreng, sambal goreng tempe, dan sepotong tempe yang dimasak bumbu Bali. Namun mie goreng dan nasi putihnya sudah tampak basi. Baru pada pukul 23.00 WIB dia dan teman-temanya mendapatkan perawatan di pos kesehatan pengungsian dan selanjutnya dilatikan ke RSUD Pelem Pare Kediri. RSUD Pelem Pare hingga saat ini belum berani menyebut para pengungsi tersebut mengalami keracunan. "Kita belum berani menyebutnya keracunan. Sebab belum ada hasil pemeriksaan laboratorium dari contoh makanan," kata Aabdul Roziq, Humas RSUD Pelem Pare.Berdasarkan pemeriksaan dokter, mereka didiagnosa mengalami diare. Indikasinya keluhan berak dan mual yang terus menerus. Sementara penyebab diare diduga adanya bakteri ecoli yang terkandung dalam jatah makanan. "Sumber bakteri ecoli macam-macam, bisa pengolahan yang tidak bersih, bisa juga cara penyajianya yang juga tidak higienis," lanjut Roziq.
(mar/mar)











































