Ribuan Napi Jadi Pahlawan dalam Kebakaran di California
Jumat, 26 Okt 2007 05:54 WIB
Los Angeles - Sebanyak 2.600 napi 'berhamburan' keluar dari penjara California, bukan untuk melarikan diri, namun ikut berjuang memadamkan api."Ini akan memberimu rasa kebanggaan, sebab engkau menyelamatkan rumah-rumah dan barang-barang," ujar salah satu napi Benjamin Gonzales (40) seperti dikutip dari AFP, Jumat (26/10/2007).Si jago merah memang tengah mengamuk di California Selatan, Amerika Serikat, dalam 5 hari terakhir. 162 Ribu hektar lahan dilaporkan terbakar dan 1700 bangunan hangus. 3 warga tewas, 40 menderita luka bakar, dan lebih dari setengah juta lainnya mengungsi.Penerjunan napi seperti Gonzales memang tak hanya untuk membantu para petugas menjinakkan api. Namun, untuk memupuk tanggung jawab sosial dan jiwa kepahlawanan mereka.Para napi juga akan mendapat remisi atau pengurangan masa hukuman. "Saya ikut supaya cepat pulang dan melakukan pekerjaan saya," ujar teman Gonzalez, Mike Keene (23), yang akan bebas bulan Februari 2008.Yang lebih bernilai lagi, melalui sebuah program yang diadakan sebuah pusat rehabilitasi di California, sebagian di antaranya diberi keterampilan memadamkan kebakaran. Sehingga, mereka dapat bekerja full time di dinas pemadam kebakaran setempat setelah bebas.Namun, hanya napi-napi dengan kriteria kejahatan tertentu yang boleh mengikuti program tersebut, yakni mereka yang dipenjara akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), mabuk saat mengemudi, dan pemakai obat terlarang.Sedangkan yang tidak diperbolehkan menjadi peserta program adalah napi yang dibui karena membunuh, memperkosa, menganiaya anak, dan tentu saja, membakar rumah.Meski penghasilan seorang petugas pemadam kebakaran di California kecil, US$ 24 per hari, namun hal itu cukup membantu kehidupan napi selepas dari bui. "Oh, saya akan sangat suka bekerja di dinas pemadam kebakaran," imbuh Gonzalez.Beberapa mantan napi mengatakan mengalami kesulitan mencari pekerjaan setelah bebas. Karena itu, berkarir sebagai pemadam kebakaran menjadi motivasi yang kuat. Sepertinya perlu dipikirkan juga untuk diterapkan di Indonesia.
(irw/aba)











































