×
Ad

Hadiri Wisuda ITS, Mentrans Kenang Sosok Patriot Muda Abdul Rohid

Rizky Adha Mahendra - detikNews
Sabtu, 18 Apr 2026 10:49 WIB
Menteri Transmigrasi Republik Indonesia M Iftitah Sulaiman Suryanagara menghadiri wisuda ke-133 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) (Rizky/detikcom)
Jakarta -

Menteri Transmigrasi Republik Indonesia M Iftitah Sulaiman Suryanagara menghadiri wisuda ke-133 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur. Iftitah mengenang sosok Abdul Rohid, alumnus ITS yang meninggal dunia dalam pengabdiannya di Tim Ekspedisi Patriot (TEP) di Kawasan Bahari Tomini Raya, Sulawesi Tengah.

Abdul Rohid sejatinya diwisuda pada September 2025. Namun dia memilih menunda upacara kelulusan untuk ikut Ekspedisi Patriot di Sulawesi.

"Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan satu hal yang sangat penting. Almarhum Abdul Rohid sebenarnya memiliki pilihan untuk menempuh jalan yang lebih mudah. Beliau seharusnya wisuda pada bulan September tahun lalu, namun ia memilih menunda itu semua," kata Iftitah di Graha ITS, Surabaya, Sabtu (18/4/2026).

Saat itu, Rohid memilih bergabung ke dalam tim ekspedisi. Rohid memilih mengabdi kepada masyarakat. Menurut Iftitah, keputusannya tersebut merupakan keputusan seorang patriot.

"Dua hari lalu, kami baru saja kembali dari Palu, Sulawesi Tengah. Bersama Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Badan Karantina Nasional, Bea Cukai, dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, kami melepas ekspor durian ke Tiongkok. Salah satunya dari kawasan transmigrasi Bahari Pombewe Raya," bebernya.

Transmigrasi tersebut, menurutnya, menyumbang 80 persen produksi durian di Kabupaten Parigi Moutong. Nilainya mencapai ratusan miliar hingga triliun rupiah.

Rohid dua tahun bertugas di daerah itu sehingga, menurut Iftitah, Rohid berperan dalam kemajuan di wilayah tersebut khususnya dalam sektor pertanian yang telah terlihat.

"Ada kontribusi yang tidak pernah ia ceritakan, ada kerja sunyi yang tidak pernah ia tampilkan," sebutnya.

Iftitah telah mendengar kisah hidup Rohid yang penuh kesederhanaan dan perjuangan. Sejak kecil, Rohid bertekad mengubah nasib keluarganya.

Rohid kecil ingin meningkatkan derajat kedua orang tuanya. Dari sanalah tekadnya muncul. Dia berjanji hendak memberangkatkan kedua orang tuanya umrah.

"Ia hidup sederhana, uang dari orang tua sering ia kembalikan. Kalau meminta, hanya sedikit. Motor pun ia beli dari beasiswanya sendiri," jelasnya.

Semasa hidupnya, Rohid tidak ingin menjadi beban keluarga. Dia sosok yang cenderung tidak banyak bicara. Meski demikian, banyak prestasi yang ditorehkan olehnya.

Dia berjalan dalam sunyi, tanpa ada yang mendengarkan. Bahkan keluarga mengetahui Rohid menyimpan segudang prestasi justru ketika ia telah berpulang.

"Tentu ini bukanlah sekadar kerendahan hati, ini adalah ketulusan yang jarang kita temukan hari-hari ini," sebutnya.

Pelajaran yang dapat dipetik dari Rohid, menurutnya, adalah tentang bagaimana memberi makna dalam hidup. Meski Rohid tak sempat berdiri di panggung wisuda, ia telah berdiri di tempat yang jauh lebih tinggi.

"Dan hari ini kita semakin memahami bahwa transmigrasi bukan lagi sekadar memindahkan orang. Transmigrasi telah bertransformasi menjadi banjirnya ilmu pengetahuan dan teknologi dengan hadirnya sumber daya manusia unggul untuk penciptaan ekosistem ekonomi berbasis kawasan," paparnya.

"Selamat jalan, Abdul Rohid. Kami akan melanjutkan mimpimu dan jalan pengabdian yang telah engkau bukakan agar hidup ini benar-benar bermakna," kenang dia.




(rdh/dek)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork