Cakupan Kerja Sama BRIN dengan Rosatom: Dukung Infrastruktur hingga Riset

Cakupan Kerja Sama BRIN dengan Rosatom: Dukung Infrastruktur hingga Riset

Dhafin Armia - detikNews
Kamis, 16 Apr 2026 14:16 WIB
BRIN
Foto: dok. BRIN
Jakarta -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Indonesia perlu mempercepat persiapan menghadapi tantangan energi masa depan. Salah satu upaya yang dinilai penting untuk menjaga kedaulatan energi jangka panjang adalah pengembangan teknologi nuklir.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan saat ini pihaknya sedang mematangkan langkah konkret untuk mempercepat transisi energi yang berkelanjutan, seperti yang dicanangkan pemerintah. Hal ini dilakukan dengan melakukan kunjungan strategis ke markas Rosatom di Rusia, Rabu (8/4).

Dalam kunjungannya, Arif Satria dan jajaran berdiskusi intensif dengan First Deputy CEO Rosatom, Kirill Komarov, beserta jajaran Board of Directors (BoD) Rosatom. Fokus utama pembahasan mencakup penjajakan kolaborasi teknis dan pengembangan infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Diskusi kami dengan Rosatom bukan sekadar pertemuan formal, melainkan upaya menjajaki langkah-langkah nyata untuk menghadirkan energi masa depan yang stabil dan bersih bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar Arif, dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026).

Sebagai salah satu pemain utama industri nuklir global, Rosatom dinilai memiliki rekam jejak yang mumpuni bagi Indonesia untuk melakukan akselerasi. Arif menekankan bahwa pengalaman panjang Rusia dalam mengelola energi nuklir merupakan peluang strategis yang harus dimanfaatkan melalui skema kemitraan yang setara.

"Kita ingin memperkuat kapasitas riset dan inovasi lokal agar ekosistem nuklir kita nanti tidak hanya aman dan andal, tetapi juga berkelanjutan karena dikelola oleh talenta-talenta terbaik negeri sendiri," kata Arif.

Ia menjelaskan, orientasi kerja sama dengan Rosatom tidak hanya terpaku pada pengadaan infrastruktur fisik, melainkan pada pembangunan ekosistem riset yang menyeluruh.

"Fokus kami adalah kolaborasi yang komprehensif. Jadi, ini bukan sekadar beli teknologi, tapi kita dorong adanya transfer teknologi yang masif," ucapnya.

Diketahui, hubungan Indonesia dan Rusia di sektor ketenaganukliran sebenarnya telah terjalin selama beberapa dekade. Kerja sama ini mencakup aspek penelitian, pengembangan teknologi, hingga pendidikan.

Melalui BRIN, pemerintah berkomitmen untuk terus memastikan setiap langkah pengembangan nuklir di Tanah Air selalu mengedepankan tujuan damai dan standar keamanan internasional tertinggi.

Contoh teknologi yang dikembangkan BRIN juga mencakup optimalisasi tiga reaktor riset yang telah dimiliki Indonesia, yakni reaktor Serpong (RSG-GAS), Bandung (TRIGA), dan Yogyakarta (Kartini). Reaktor-reaktor tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian, pelatihan sumber daya manusia, serta produksi radioisotop yang digunakan di bidang kesehatan dan industri.

Lihat juga Video: Prabowo Temui Putin, Bahas Kerja Sama Ekonomi hingga Energi

(prf/ega)


Berita Terkait