Kisah Eks Geng Motor Bandung
Selasa, 23 Okt 2007 11:52 WIB
Jakarta - Aksi anggota geng motor di Bandung, Jawa Barat, kian edan. Mereka tak hanya tawuran antar sesama geng motor. Pejalan kaki yang sedang menikmati sejuknya udara kota kembang itu bisa saja menjadi korban.Kenapa anggota geng motor di Bandung demikian brutal? Seorang, sebut saja Angga, mantan anggota geng motor yang sangat disegani di Bandung mengatakan, salah satu sebabnya adalah selain dekat dengan minuman keras, anggota geng motor juga akrab dengan obat-obatatan terlarang.Anggota geng sebagian besar adalah remaja tanggung atau masih duduk di bangku SMU. Mereka belum mempunyai penghasilan sendiri. Karena itulah mereka sering melakukan kejahatan agar bisa membeli obat-obatan tersebut."Mereka brutal karena ada unsur drugs and alcohol. Dulu saudara saya juga kalau membutuhkan uang dia suka 'belanja' (istilah yang biasa digunakan untuk penjambretan)," ujar Angga.Bahkan, sambung Angga, ada satu geng motor yang ketua dan anggotanya bahkan merupakan pengedar dan pengguna obat-obatan.Angga juga bercerita mengapa dirinya menjadi anggota geng motor. Penyebabnya tak lain adalah rasa dendam, emosi, dan egoisme jiwa mudanya. Sebelum menjadi anggota geng morot dirinya kerap menjadi korban pemalakan anggota geng motor."Saya sering diperas dan tidak bisa melawan karena mereka selalu beramai-ramai. Untuk mendapatkan perlindungan, saya masuk ke geng motor yang berbeda," tutur Angga.Alasan lain untuk menunjukkan eksistensi diri dan mencari uang. Mereka ingin diakui keberadaannya. Tapi ada juga yang asal mulanya hanya karena senang kebut-kebutan.Soal sebab tawuran antar geng motor, banyak hal yang bisa menjadi pemicunya. Mulai dari masalah rebutan wanita, daerah kekuasaan, hingga wilayah pemasaran obat-obatan. Seperti disebutkan tadi, tidak sedikit anggota geng motor yang terlibat dalam perdagangan barkoba."Kalau sudah begitu, musuh pasti dikejar sampai ketemu. Kalau ketemu, kita rampas motor plus hartanya. Kadang motornya dibakar, samurai juga ikut bicara. Tapi tidak pernah dipublikasikan orang yang tewas. Jadi tahu sama tahu antar anak geng saja," ujarnya.Para anggota geng motor dulu biasanya nongkrong di kawasan Jl Dago. Namun menyusul dibangunnya jalan layang Pasteur-Surapati, arena nongkrong pun berpindah ke fly over itu.Di kawasan Dago, mereka biasanya menyembunyikan motornya di selokan-selokan di pinggir jalan. Begitu ketemu sang korban, mereka langsung menghunuskan pedang samurai. Malah jika ketemu lawan yang seimbang, mereka tidak jarang ada yang menggunakan pistol. Seperti di film koboi, mereka kejar-kejaran dengan musuhnya sambil sesekali melepaskan tembakan.Bagaimana dengan polisi? Banyak anggota geng motor di Bandung yang tak begitu takut dengan aparat. Sebab tak sedikit pula anggota geng motor yang punya beking kuat di polisi sendiri. "Beking mereka kan tinggi sekali. Coba saja loe pikir sendiri, kenapa geng motor bisa menyerang kantor polisi untuk menyelamatkan pimpinannya saja," ujar Angga.Jumlah anggota geng di Bandung kini semakin banyak. Sebab jumlah motor semakin banyak plus kian teraturnya organisasi geng motor. Di tiap wilayah mereka selalu mempunyai pemimpin."Kalau motor hilang dirampas geng musuh atau polisi, mereka enggak bakalan rugi. Karena rata-rata mereka memiliki motor itu dari hasil menjambret atau meminjam motor," ungkap pria yang kini bekerja di sebuah perusahaan swasta di Bandung.Angga beruntung dirinya kini tidak lagi menjadi bagian komplotan 'teroris' jalanan tersebut. Meski tak mudah, dia akhirnya bisa keluar dari lingkungan yang menjerumuskan dirinya dalam berbagai kejahatan.
(ddn/djo)











































