Polisi & Sekolah Lemah Picu Aksi Brutal Geng Motor Bandung
Selasa, 23 Okt 2007 10:36 WIB
Jakarta - Geng motor di Bandung sebetulnya sudah eksis lebih dari 10 tahun lalu. Namun aksi brutal mereka makin tercium sejak 5 tahun terakhir. Minimnya penyaluran minat diduga jadi salah satu pemicu.Lima tahun lalu sebelum aksi geng motor menjurus ke arah kriminalitas, keberadaan geng ini hanya untuk sekadar kongkow-kongkow anak Bandung. Namun belakangan timbul friksi di antara geng-geng motor tersebut. Aksi mereka pun berubah lebih serius. Bukan pencurian atau perampokan yang sering dituduhkan kepada geng-geng ini, tapi aksi pemukulan atau pengeroyokan tanpa sebab yang akhirnya menimbulkan korban jiwa.Analisa itu disampaikan sosiolog Universitas Padjadjaran (Unpad) Budi Rajab kepada detikcom, Selasa (23/10/2007)."Geng motor ini salah satu sub kultur yang muncul di Bandung dalam 5 tahun terakhir. Mereka cenderung menjadi sub kultur yang agresif dibandingkan sub kultur-sub kultur anak muda Bandung lainnya," beber Budi.Anggota geng motor ini rata-rata ABG dan remaja Bandung yang usianya antara 15-20 tahun. Usia di mana anak muda biasanya ingin mencari jati diri."Sayang di Bandung tidak ada upaya-upaya untuk menyalurkan minat mereka ke arah yang positif, seperti gym atau seni. Kebijakan pemerintah kota Bandung cenderung pembangunan mal," kata dia.Tidak hanya minimnya tempat penyaluran minat remaja Bandung yang disesali Budi, lemahnya penegakan hukum dari aparat kepolisian juga ikut memicu menjamurnya dan makin brutalnya aksi geng motor.Polisi sering kali melepaskan pelaku kriminalitas dari geng motor dengan mudah. Ini karena banyak anggota geng motor yang merupakan anak-anak polisi atau anggota TNI.Sikap sekolah juga menjadi sorotan Budi. Budi menilai sekolah tidak bedanya dengan aparat penegak hukum yang bersikap lemah kepada anak didiknya. Jika ada anak didiknya yang terlibat aksi, biasanya sekolah hanya memaafkan."Ini berlangsung terus menerus, seolah-olah dibiarkan. Kenakalan mereka dianggap sebagai kenakalan anak-anak biasa, padahal sudah serius. Mereka terus dirangkul," ujarnya.Sumpeknya kota Bandung juga dinilai ikut membentuk sikap warganya. "Kota Bandung yang padat secara psikologis sosial ikut mempengaruhi sikap seseorang," katanya.Masih Bisa DicegahSebetulnya aksi geng motor ini, imbuh Budi, masih bisa dicegah jika ada kemauan serius dari penegak hukum dan upaya tertentu dari masyarakat. Salah satunya, menciptakan kondisi lingkungan yang kondusif untuk menyalurkan minat mereka, sehingga aktivitasnya bisa dipantau."Misalnya dibikin fasilitas olahraga di lingkungan. Sekolah juga demikian, menyediakan fasilitas untuk anak didik beraktivitas setelah pendidikan formal berlangsung," katanya.Selain itu, kata Budi, orangtua juga diminta tidak mudah membelikan motor untuk anak-anaknya. "Mudahnya orang membeli motor saat ini, menurut saya, juga ikut memberi kontribusi. Mereka juga mengizinkan anaknya yang masih muda membawa motor. Coba lihat di Bandung banyak sekali anak SMP yang sekolah naik motor," tandas dia.Ingin berdiskusi tentang geng motor? Cukup klik di detikforum.
(umi/nrl)











































