Waka MPR Harap Lonjakan Kasus Campak Jadi Alarm Kesadaran Hidup Sehat

Waka MPR Harap Lonjakan Kasus Campak Jadi Alarm Kesadaran Hidup Sehat

Gezita Inova Rusyda - detikNews
Kamis, 09 Apr 2026 12:54 WIB
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong agar merebaknya kasus campak jadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat untuk segera membangun kesadaran kolektif mewujudkan pola hidup sehat. Hal ini bisa dilakukan mulai dari lingkup keluarga sebagai bagian mewujudkan sistem kesehatan nasional yang kuat.

"Merebaknya kasus campak sejak awal tahun ini harus menjadi momentum bagi kita untuk membangun kesadaran bersama dalam merealisasikan pola hidup sehat masyarakat Indonesia," ujar Lestari dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).

Hal ini dia ungkapkan saat membuka diskusi daring bertema Bahaya Penyakit Campak di Indonesia dan Upaya Penanggulangannya yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (8/4).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Lestari, upaya membangun pola hidup sehat masyarakat merupakan bagian dari upaya memberikan perlindungan bagi setiap warga negara melalui aspek yang mendasar, seperti kesehatan.

Catatan Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa saat ini terjadi herd immunity (<95%) atau penurunan kekebalan tubuh yang memicu peningkatan kasus campak secara drastis. Hal itu antara lain disebabkan penurunan cakupan imunisasi Campak-Rubella (MR) di Indonesia yang dipicu sejumlah penyebab antara lain misinformasi/hoaks antivaksin, gangguan layanan selama pandemi COVID-19, dan rendahnya penerimaan masyarakat.

Rerie, sapaan akrab Lestari, berpendapat bahwa keseluruhan data tersebut harus mampu dimanfaatkan sebagai dasar untuk menentukan perbaikan arah kebijakan terkait upaya pencegahan sejumlah penyakit dan memperkuat kapasitas sistem kesehatan nasional.

"Kesadaran kolektif untuk hidup sehat harus konsisten dibangun mulai dari lingkup keluarga dalam memperkuat sistem kesehatan nasional," ujar Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mendorong agar para pemangku kepentingan mampu membenahi sistem kesehatan nasional secara fundamental agar aspek perlindungan melalui pemenuhan hak kesehatan setiap warga negara dapat benar-benar direalisasikan.

Upaya Mengatasi Kasus Campak

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan pemerintah memiliki sistem monitoring kewaspadaan dini terhadap penyebaran suatu penyakit.

Menurut Siti, sebenarnya peningkatan kasus campak dan suspek campak sudah mulai terlihat sejak akhir tahun 2025 dan mencapai catatan tertinggi pada pekan pertama 2026 dengan suspek campak 2.932 dan 2.220 kasus campak yang terkonfirmasi secara klinis.

Siti menjelaskan bahwa kasus campak baru menunjukkan penurunan kasus campak pada pekan kedua Maret 2026. Ia mengungkapkan sejumlah provinsi di Tanah Air yang mengalami peningkatan kasus campak tercatat memiliki capaian imunisasi campak yang rendah.

Lebih lanjut, Siti juga mengungkapkan sejumlah upaya untuk mengatasi kondisi tersebut, yaitu outbreak response immunization dengan pemberian imunisasi tambahan tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Selain itu, tambah dia, juga dilakukan pemberian imunisasi untuk melengkapi status imunisasi pada bayi dan balita.

Untuk mencegah paparan penyakit campak pada tenaga medis, jelas Siti, Kementerian Kesehatan juga telah menerbitkan Surat Kewaspadaan Terhadap Penyakit Campak bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan nomor HK. 02.02/C/1602/2026 sebagai acuan kewaspadaan bagi seluruh fasilitas layanan kesehatan.

Campak Bukan Penyakit Baru

Selain itu, Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan permasalahan campak mengemuka di Tanah Air karena terjadi peningkatan kasus. Terdapat kasus dokter yang meninggal akibat campak dan ada laporan kasus campak di Australia yang datang dari orang dari Jakarta.

Tjandra menjelaskan bahwa campak bukan penyakit baru karena termasuk ke dalam 10 wabah penyakit yang terjadi pada abad ke-9 SM. Namun, selama 25 tahun terakhir ini, terbukti bahwa melalui vaksinasi campak yang baik dapat menyelamatkan 57 juta penduduk dari kematian.

"Dampak vaksinasi terhadap penurunan penularan kasus campak sangat besar," tegas Tjandra.

Tjandra menyarankan untuk menekan angka kasus campak saat ini perlu peningkatan pemberian vaksinasi campak pada orang dewasa, selain vaksinasi terhadap anak dan balita yang sudah terjadwal.

Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene menilai saat ini pemerintah menghadapi kasus campak yang signifikan dengan kejadian luar biasa yang tersebar di sejumlah daerah.

Upaya imunisasi, jelas Felly, merupakan program wajib dari pemerintah pusat yang pelaksanaannya oleh pemerintah daerah. Kondisi saat ini harus menjadi perhatian serius secara bersama, mengingat campak merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Felly berharap sejumlah program imunisasi dan pencegahan yang telah direncanakan dapat direalisasikan dengan sebaik-baiknya bagi setiap warga negara.

Perkuat Layanan Kesehatan Primer

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso berpendapat sudah saatnya pemerintah memperkuat layanan kesehatan primer dalam bentuk upaya promotif preventif, seperti cakupan imunisasi.

Piprim menjelaskan ketika negara bergeser fokus ke upaya kuratif dalam menghadapi wabah kedodoran karena layanan kesehatan primernya lemah. Menurut Piprim, kehadiran posyandu merupakan dasar yang kuat bagi layanan promotif dan preventif yang diperlukan.

Sebagai informasi, diskusi tersebut dimoderatori oleh Eva Kusuma Sundari (Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI) dan menghadirkan Felly Estelita Runtuwene (Ketua Komisi IX DPR RI), Siti Nadia Tarmizi (Direktur Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI), Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama (Direktur Pascasarjana Universitas YARSI - Direktur World Health Organization South East Asia Regional Office/WHO SEARO periode 2018-2020), dan Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) (Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia /IDAI) sebagai narasumber.

Tonton juga video "Vaksin Campak yang Diizinkan BPOM untuk Orang Dewasa"

(akd/ega)


Berita Terkait