"Operasi yustisi ditiadakan, salah satu indikator kota global itu ya Jakarta harus ramah terhadap pendatang, manajemennya juga harus transparan dan terbuka. Operasi yustisi itu masa lalu bangetlah," ujar Pramono dalam program Blak-blakan detikcom (9/4/2026).
Pramono memprediksi jumlah pendatang yang masuk ke Jakarta tahun ini sekitar 12-13 ribu orang. Angka ini turun jauh dari tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 16 ribu orang.
"Jadi kenapa Jakarta ini tetap menjadi magnet bagi para pendatang, di Jakarta ini hampir semuanya diberikan kemudahan dan gratis. Hampir semua orang tahu, pendidikan, kesehatan, pelatihan, kan ga semua daerah bisa memberikan ruang seperti ini untuk betul-betul gratis," terang Pramono.
Ia menyoroti pentingnya pengelolaan urbanisasi secara bijak, dengan memastikan keseimbangan antara peluang ekonomi, ketersediaan lapangan kerja, serta kesiapan infrastruktur kota.
"Masih banyak lapangan pekerjaan yang tersedia di Jakarta, tahun lalu saja kami menggelar 22 kali job fair. Kami mengimbau kepada pendatang yang mau ke Jakarta juga harus membawa bekal, bukan hanya finansial tetapi juga harus memiliki skill agar bisa survive di sini," tegas Pramono.
Pramono juga menekankan bahwa keterbukaan Jakarta harus diiringi dengan aturan yang jelas dan penataan yang baik, agar pertumbuhan penduduk tidak menimbulkan persoalan sosial baru. Dengan pendekatan yang humanis dan terukur, Jakarta diharapkan mampu menjadi kota yang kompetitif di tingkat global, sekaligus tetap ramah dan layak huni bagi seluruh warganya.
Simak tayangan selengkapnya di program Blak-blakan detikcom dalam kanal 20detik.
(ppy/ppy)











































