Gencatan Senjata AS-Iran, Dubes UEA Harap Buka Jalan Damai dan Stabilitas

Gencatan Senjata AS-Iran, Dubes UEA Harap Buka Jalan Damai dan Stabilitas

Taufiq Syarifudin - detikNews
Kamis, 09 Apr 2026 02:44 WIB
Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla Salem Al-Dhaheri dalam jumpa pers di kediamannya, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (8/4/2026).
Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla Salem Al-Dhaheri dalam jumpa pers di kediamannya, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (8/4/2026). (Taufiq/detikcom)
Jakarta -

Iran dan Amerika Serikat bersepakat gencatan senjata selama dua minggu. Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla Salem Al-Dhaheri menyambut baik gencatan senjata itu.

"UAE dan negara sahabat di GCC dan Yordania, kami selalu menyerukan deeskalasi, gencatan senjata, dan diskusi di ruang diplomatis, kami tidak ingin ada eskalasi," kata Al-Dhaheri kepada wartawan di kediamannya, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (8/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia berharap masa gencatan senjata ini dapat menjadi kesempatan untuk menemukan jalan damai. Dia ingin dalam sisa waktu yang ada, pihak berkonflik bisa sepakat damai.

"Saat ini adalah waktu yang baik untuk membicarakan jalan ke depan, berdiskusi soal kedamaian dan stabilitas. Dan kami berharap dalam kurun waktu dua minggu ini, kita bisa mencapai kesepakatan untuk menimbulkan stabilitas, agar kita bisa bekerja untuk mencapai kemakmuran bagi negara kita," jelasnya.

Dia juga berharap dengan perdamaian bisa segera memulihkan stabilitas ekonomi global. Terlebih banyak negara bergantung dengan Selat Hormuz.

"Kita harus membangun bersama, bergerak maju bersama, kita harus saling terlibat dengan tenteram dan aman. kita harus melihat Teluk Hormuz bergerak karena kita tidak ingin melihat kehancuran rantai pasok," katanya.

"Kita sudah melihat korban luka, korban jiwa. kita sudah lihat ada orang kehilangan pekerjaan, terdampar dan tidak bisa bepergian. Ini yang tidak ingin kita lihat, kita ingin melihat ada resiliensi, teluk yang baik, kita punya makanan, dan banyak komoditas berbeda," sambungnya.

(tsy/idn)


Berita Terkait