Badan Informasi Geospasial (BIG) menjelaskan teknologi penginderaan jarak jauh atau satelit saat ini sudah sangat maju. Namun, BIG mengungkapkan data satelit Indonesia belum berdaulat, sebab data tersebut dikuasai oleh pihak asing.
Hal itu disampaikan oleh Plt Kepala BIG Mohamad Arief Syafii dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Baleg DPR membahas soal RUU Satu Data Indonesia di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/4/2026). Wakil Ketua Baleg DPR Sturman Panjaitan mencontohkan teknologi satelit yang dimiliki Amerika Serikat di tahun 1996 sudah maju untuk melihat suatu objek.
"Kami pernah melihat satelit yang digunakan oleh Amerika pada saat dia bisa melihat mobil, ini satelit Pak, mobil yang ada di Pentagon itu ukurannya segini-segini Pak besarnya (menunjuk setengah jari). Itu bisa 1:1000 itu, segini mobilnya Pak (seukuran jari) cuma bentuknya tidak sebagus mobil kalau kita foto dari jarak 10 meter," kata Sturman dalam rapat, menceritakan pengalamannya saat menjadi anggota TNI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sturman menyebut teknologi satelit AS bahkan bisa melihat keberadaan pejabat. Ia berharap Badan Informasi Geospasial bisa mengembangkan teknologi tersebut.
"Tapi bisa melihat kalau itu mobil artinya itu teknologi waktu '96 Pak, sekarang berarti sudah bisa melihat bahkan, di mana pejabat itu mereka bisa kejar kok, pejabat bisa kejar mereka. Artinya teknologi yang sekarang itu jauh lebih mudah, dan siapapun bisa menggunakan teknologi untuk melihat data Indonesia," kata Sturman.
Plt Kepala BIG Mohamad Arief Syafii menjelaskan perkembangan satelit saat ini memang semakin maju. Ia menjelaskan hambatan teknologi penginderaan jarak jauh di wilayah RI salah satunya karena faktor geografi.
"Jadi betul sekali Pak pimpinan yang disampaikan tadi, bahwa sekarang ini teknologi penginderaan jauh, satelit sudah sangat maju resolusi tertinggi yang di-publish untuk publik bukan yang versi militer Pak, itu kita nggak bisa akses," kata Arief.
Arief menyebut pemetaan navigasi di Indonesia kerap kali terhambat oleh faktor geografi awan. Ia lantas mencontohkan teknologi yang jangkauannya lebih mendetail.
"Nah, kendala di Indonesia adalah bukan hanya sekedar teknologi Pak, tapi juga masalah kondisi geografi awan, satelit-satelit ini tidak bisa tembus awan akan tergantung oleh awan. Kita menemukan satelit juga bisa teknologi yang menggunakan radar bukan optis. Kalau yang kita lihat selama ini kebanyakan teknologi optis ya, kayak motret biasa," ungkapnya.
Arief menyebut RI bisa mengandalkan teknologi pesawat jika satelit tak memungkinkan. Arief pun berharap Indonesia nantinya memiliki kedaulatan data termasuk teknologi navigasi seperti perusahaan asing.
"Nah kalau satelit ini bisa melenceng meteran Pak jauh. Dengan teknologi pesawat ini bukan hanya resolusi yang bisa kita tinggikan bisa sampai 8 cm Pak yang 1.000 itu butuh 8 cm. Resolusinya, berarti gelas ini bisa dapat Pak, tapi juga ketelitian posisinya," ujar Arief.
"Kami berharap kita ke depan punya kedaulatan terhadap data ini Pak, jujur saja sekarang ini kita belum berdaulat. Jangankan teknologinya Pak, data pun yang punya lengkap sekarang Google Maps, Here Maps, asing semua, kita nggak menguasai data-data ini," tambahnya.
Arief berharap Indonesia bisa membangun satelit sendiri untuk memetakan wilayah. Ia mencontohkan perang antara AS-Israel dengan Iran yang melibatkan teknologi citra satelit untuk menyasar objek.
"Nah ke depan kalau ini bisa diatur di RUU ini kita harus mandiri secara teknologi, kita harus bangun satelit sendiri. Mungkin perang Iran sama Amerika-Israel ini contoh bagaimana mereka menggunakan citra satelit untuk menentukan objek mana yang akan ditembak," kata Arief.
Arief mengatakan, jika Indonesia tak memiliki sistem seperti itu, pertahanan udara akan salah sasaran. Ia ingin teknologi satelit Indonesia bisa lebih maju.
"Kalau kita nggak punya ini peluru kita bisa nyasar ke mana-mana, nah ini yang mungkin perlu karena di samping untuk memetakan kita juga butuh untuk meng-update Pak," ujar Arief.
"Tadi Pak Sturman bilang ada perubahan di lapangan kita butuh teknologi yang cepat, ini hanya satelit yang bisa dilakukan ini, kalau pakai pesawat mahal dan hanya scoop yang kecil tapi dengan satelit kita bisa lakukan dengan cepat," imbuhnya.
Simak juga Video 'Elon Musk soal Permukiman-Pabrik di Bulan: Mungkin Kita Ketemu Aliens':











































