Gegara Perang, Plastik Mendadak Jadi Barang Mahal!

Detik Pagi

Gegara Perang, Plastik Mendadak Jadi Barang Mahal!

Trypama Randra - detikNews
Senin, 06 Apr 2026 07:58 WIB
Jakarta -

Harga plastik mengalami kenaikan karena pasokan bahan baku terganggu perang di Timur Tengah. Kenaikan harga terjadi karena Indonesia masih tergantung bahan baku plastik dari impor.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dikutip Minggu (5/4/2026), Indonesia impor plastik dan barang dari plastik (HS 39) senilai US$ 873,2 juta atau setara Rp 14,78 triliun (kurs Rp 16.927) pada Februari 2026. Barang tersebut dipasok dari berbagai negara.

Impor plastik dan barang dari plastik pada Februari 2026 paling banyak berasal dari China yakni US$ 380,1 juta. Kemudian disusul dari Thailand US$ 82,7 juta dan dari Korea Selatan (Korsel) US$ 66,7 juta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indonesia juga tercatat impor plastik dan barang plastik dari Amerika Serikat (AS) yang saat ini sedang berperang dengan Iran. Tercatat impornya mencapai US$ 29,9 juta pada Februari 2026.

Kemudian Indonesia juga impor plastik dan barang plastik dari Arab Saudi senilai US$ 14,9 juta pada Februari 2026. Pemasok juga ada berasal dari Vietnam, Jepang, Singapura, Malaysia dan Taiwan.

ADVERTISEMENT

Pedagang Pasar Menjerit!

Sementara itu, Ketua Bidang Infokom Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI), Reynaldi Sarijowan mengatakan kenaikan harga plastik terjadi karena Indonesia masih tergantung bahan baku plastik dari impor. Kenaikan harga disebut mencapai hingga 50%.

"Kami pantau sudah cukup lama, pada saat memasuki bulan suci Ramadan harga plastik sudah mulai ada kenaikan. Puncaknya ini harganya yang kami sudah hitung kenaikannya mencapai 50%," kata Reynaldi kepada detikcom, Minggu (5/4/2026).

Reynaldi mencontohkan harga plastik kresek yang awalnya Rp 10.000 menjadi Rp 15.000 per pack, kemudian plastik klasifikasi lainnya ada yang naik dari Rp 20.000 menjadi Rp 25.000.

"Memang ini risiko jika kita masih mengalami ketergantungan impor sehingga dampak dari perang yang ada di Timur Tengah ini implikasi secara serius ke dalam negeri sehingga kenaikannya akan terus terjadi. Kami pantau memang signifikan sekali harga plastik ini kenaikannya," imbuhnya.

Reynaldi menyebut pedagang pasar yang dominan menggunakan plastik untuk membungkus dagangannya sudah teriak dengan kenaikan harga ini. Ia tidak menampik jika kenaikan harga plastik bisa berpotensi mengerek harga komoditas yang dijual di pasaran.

"Emak-emak yang menggunakan plastik untuk dagangannya tentu sudah teriak-teriak, ini akan membuat harga di pasaran juga berpotensi mengalami kenaikan," tutur Reynaldi.

Sebagaimana diketahui, plastik sebagian besar berasal dari hasil pengolahan minyak bumi termasuk polyethylene (PE) dan polypropylene, dua jenis plastik yang paling banyak digunakan di dunia. Kenaikan harga minyak akibat perang tidak hanya meningkatkan biaya produksi plastik, tetapi juga harga bahan bakunya.

Terlebih kawasan Timur Tengah merupakan pemasok utama bahan baku plastik global. Berdasarkan data S&P Global Energy, kawasan ini menyumbang sekitar 25% dari ekspor polyethylene dan polypropylene dunia. Konflik yang terjadi pun secara otomatis mengganggu rantai pasok produk turunan minyak bumi tersebut.

"Sekitar 84% kapasitas polyethylene Timur Tengah bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor melalui jalur laut," kata Harrison Jacoby, Direktur Polyethylene di Independent Commodity Intelligence Services dikutip dari CNN.

Saksikan pembahasan selengkapnya hanya di program detikPagi edisi Senin (6/4/2026). Nikmati terus menu sarapan informasi khas detikPagi secara langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.detik.com, YouTube, TikTok dan Facebook detikcom. Tidak hanya menyimak, detikers juga bisa berbagi ide, cerita, hingga membagikan pertanyaan lewat kolom live chat.

"Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi!"

(vrs/vrs)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads