Dalam 2 Tahun, Puluhan Ribu Warga Myanmar Mengungsi
Sabtu, 20 Okt 2007 04:50 WIB
Bangkok - Sekitar 76 ribu orang meninggalkan rumah mereka di Myanmar sampai akhir tahun 2006 lalu. Hal ini karena konflik bersenjata dan pelanggaran HAM oleh junta militer.Menurut Thailand Burma Border Consortium (TBBC), penyiksaan, serangan militer dan penahanan serampangan telah meningkat sejak 2 tahun yang lalu. Aksi kekerasan ini terjadi di wilayah terpencil di timur Myanmar, di mana junta telah memerangi sebuah etnik selama hampir 60 tahun, sehingga total membuat 500 ribu orang mengungsi.Dunia hanya melihat penindasan junta terhadap biksu-biksu muda. Namun kekerasan yang dialami etnik ini jauh dari mata internasional."Militerisasi wilayah perbatasan telah membawa teror terhadap komunitas etnik," ungkap Direktur Eksekutif TBBC Jack Dunford, seperti dilansir AFP, Sabtu (20/10/2007).Akhir tahun lalu, 76 ribu orang meninggalkan rumahnya. 160 Desa dihancurkan, kata TBBC yang merupakan aliansi 10 LSM itu.Dunford berpesan, ketika PBB mencoba menekan junta untuk bernegosiasi dengan oposisi pro-demokrasi, harusnya upaya internasional juga pada nasib warga terpencil di timur Myanmar ini."Sangat penting untuk secara khusus menyebutkan kekerasan yang terjadi di wilayah terpencil dan untuk mendesakkan perdamaian," kata Dunford.Sebagian besar timur Myanmar dikendalikan pemberontak Karen National Union (KNU), bamun kelompok ini telah terjepit posisinya di perbatasan dengan Thailand. KNU menjadi kelompok perlawanan terbesar terhadap junta dan salah satu kelompok etnik yang belum menandatangani perjanjian damai dengan junta.
(aba/aba)











































