7 Musibah Laut di Kala Lebaran
Jumat, 19 Okt 2007 19:56 WIB
Jakarta - Selama Lebaran, Badan SAR Nasional (Basarnas) menangani 7 kecelakaan dan orang hilang di laut. Dari 7 peristiwa itu, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang paling tinggi frekuensinya.Data itu dihimpun dari laporan Basarnas seluruh Indonesia mulai H-7 sampai H+5 yang masuk di Posko Basarnas pada Posko Angkutan Lebaran Nasional, Departemen Perhubungan (Dephub)."Dari 7 kali peristiwa, 3 di antaranya terjadi di Aceh," ujar Ketua Bidang Basarnas Posko Angkutan Lebaran Nasional M Yusuf Latif kepada detikcom, di Gedung Dephub, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (19/10/2007).Dari 3 peristiwa yang terjadi di Aceh, yang paling gres terjadi Kamis 18 Oktober 2007 kemarin. Menurut informasi dari kantor SAR Aceh via fax, lanjut dia, sebuah kapal patroli milik Satuan Polisi Air NAD meledak dan terbakar hingga tenggelam. "Peristiwa itu terjadi di Lhok Mata, Ulleulheu, pukul 11.00 WIB. 5 Orang selamat dan dievakuasi ke rumah sakit, 2 diantaranya mengalami luka bakar," jelas Yusuf. Dua kejadian lagi, lanjut Yusuf, adalah peristiwa tenggelam karena hanyut di Pantai Lhok Ngah. Peristiwa pertama terjadi 13 Oktober 2007, 1 orang hanyut dan ditemukan meninggal pada 15 Oktober 2007. Sedangkan kejadian lainnya pada 14 Oktober 2007 pukul 15.00 WIB, sempat menghanyutkan 1 orang Warga Negara Australia dan 4 orang Warga Negara Indonesia (WNI)."WN Australia dan 3 orang WNI selamat. Tapi yang satu lagi masih hilang," kata dia.Korban hilang yang juga dicari adalah Dimas Aditya Putra (19), korban hanyut di Pantai Glagah, Kulon Progo, Yogyakarta, pada 16 Oktober 2007 pukul 15.00 WIB. Musibah terakhir, banyak korban yang masih harus dicari pada tenggelamnya kapal Acita 03 di Perairan Bau-bau Sulawesi Tenggara, 18 Oktober 2007."Menurut laporan dari Kantor SAR Kendari, jumlah korban hilang 30 orang. Sedangkan yang meninggal 23 orang dan selamat 125 orang," imbuhnya.Pencarian korban hilang ini akan dicari dalam kurun waktu 7 hari setelah kejadian. Jika dalam kurun waktu itu korban tidak ditemukan, lanjutnya, maka bukan menjadi tanggung jawab Basarnas lagi. "Kecuali kalau ada informasi yang akurat, akan ditindaklanjuti," jelas Yusuf.Musibah di AirSelain meledaknya kapal patroli di Lhok Mata dan tenggelamnya kapal Acita 03 di Perairan Bau-bau, menurut info dari rescue boat Basarnas Jakarta di Pelabuhan Bakauheni, 18 Oktober 2007 pukul 13.15 WIB, seorang pemulung meninggal karena tergencet KMP Tri Star 8."Pemulung atau asongan itu ditemukan meninggal pada pukul 16.45 WIB, di dermaga 4," terang dia.Selain itu juga terjadi kebakaran perahu jukung di perairan Sungai Musi pada 9 Oktober 2007 pukul 13.00 WIB."Itu laporan dari rescue boat kantor SAR Palembang. Jukung MS Cinta terbakar yang berisi 4 anak buah kapal. Selamat semua," kata dia.Basarnas didukung oleh 17 ribu personel di seluruh Indonesia yang 540 di antaranya angggota tetap. Sarana pendukung adalah rescue truck 3 unit, rescue car 21 unit, rescue boat 12 unit, helikopter 5 unit, serta beberapa sea rider dan rubber boat yang disiagakan di seluruh Indonesia.
(nwk/aba)











































