Mencari Asa di Batavia
Jumat, 19 Okt 2007 13:07 WIB
Jakarta - Lebaran usai. Ratusan ribu manusia kembali membanjiri Batavia (nama Jakarta tempo dulu). Akibat model pembangunan yang masih tersentral di Ibukota negara, Jakarta pun menjadi tujuan utama. Sayangnya, tidak sedikit yang datang dengan hanya bermodal tenaga."Nyari barang bekas," ujar Wahyu (27) warga Indramayu, Jawa Barat, yang baru saja menginjakan kakinya di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, Jumat (19/10/2007).Bagi Wahyu dan ribuan urban lainnya, bertahan di kampung halamannya sirasa sebagai sesuatu yang tidak mungkin. Ibarat pepatah, tikus mati kelaparan di lumbung padi, Wahyu mengalami hal serupa.Di tempat ia lahir, keluarganya sudah tercerai berai. Mereka menggantungkan hidup dengan menjadi pemulung, penarik becak, dan pedagang minuman."Meski di Jakarta jadi pemulung, lumayan, bisa makan," cetus Wahyu seraya menenteng karung dan timbangan untuk menimbang hasil rongsokannya."Jadi pemulung kan modalnya cuma karung, gancu, dan timbangan," katanya enteng."Semoga Lebaran tahun depan bisa pulang ke kampung dengan hasil memulung," harap Wahyu.Di tempat terpisah, hal yang sama juga dialami Fitri (22). Gadis asal Wonogiri, Jawa Tengah, yang baru turun di Stasiun Pasar Senen Jumat siang ini. Bermodal ijazah SMA, dia pun percaya diri untuk bekerja sebagai pelayan di supermarket di Sukapura, Jakarta Utara."Saya diajak teman kakak saya. Kalau di kampung cuma njagain adik," kisahnya dengaan senyum mengembang.Meski para pendatang datang ke Jakarta sebagai bentuk kegagalan pembangunan yang tersentralistik, tetapi pemerintah malah memeranginya dengan menggelar Operasi Yustisi. Alasannya, Jakarta sudah sangat padat.Hal ini mengingatkan pada ribuan warga Inggris miskin yang mencari pengharapan ke Amerika Serikat pada masa prakemerdekaan. Atau orang-orang Cina yang kini tersebar di seluruh penjuru negara. Ini pula yang dialami Wahyu, Fitri, maupun Wahyu dan Fitri lainnya.
(asp/nvt)











































