Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) terus didorong di berbagai daerah, termasuk di Maluku Utara. Salah satu fokus utama yang kini menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Maluku Utara adalah penanganan stunting.
Hingga saat ini, stunting memang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di wilayah terpencil dan kepulauan. Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif serta produktivitas di masa depan.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, berbagai program penanganan stunting terus diperkuat. Peningkatan layanan kesehatan dan pemenuhan gizi anak pun menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penanganan stunting harus menyentuh masyarakat secara langsung. Intervensi harus dimulai sejak masa kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan anak agar kita benar-benar menghasilkan generasi yang sehat," ujar Sherly dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4/2026).
Kolaborasi Swasta Tekan Kasus Stunting di Maluku Utara
Dalam penanganan stunting, Pemprov Maluku Utara juga mendorong keterlibatan berbagai pihak agar penanganan stunting dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Salah satu bentuk kolaborasi tersebut terlihat dari keterlibatan Harita Nickel melalui program Soligi Zero Stunting di Pulau Obi.
Community Development Manager Harita Nickel, Broto Suwarso menjelaskan program Soligi Zero Stunting telah dijalankan sejak 2022 dengan memadukan intervensi gizi, edukasi kesehatan, dan penguatan pelayanan kesehatan masyarakat.
Program ini menjadi bagian dari inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan sekaligus dukungan terhadap upaya Pemprov Maluku Utara dalam menekan angka stunting.
"Keberhasilan ini adalah hasil kerja bersama. Kami percaya, kesehatan anak adalah fondasi penting bagi masa depan yang lebih kuat dan sejahtera," paparnya.
Pemantauan berkala status gizi dan berat badan anak oleh kader posyandu Foto: Harita Nickel |
Meski demikian, pelaksanaan program ini tidak lepas dari sejumlah tantangan di lapangan. Penguatan kapasitas kader masih diperlukan, khususnya dalam melakukan pengukuran dan pemantauan tumbuh kembang anak secara tepat. Di sisi lain, keterbatasan prasarana kesehatan seperti gedung Puskesmas juga menjadi kendala yang perlu segera diatasi.
Selain itu, ketersediaan alat kesehatan, obat-obatan, serta tenaga kesehatan masih perlu ditingkatkan agar layanan dapat berjalan optimal. Tantangan lainnya adalah akses terhadap air bersih yang layak, yang masih perlu diperluas guna mendukung kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Gencarkan Edukasi hingga Pembangunan Fasilitas
Untuk menjawab tantangan tersebut, Harita Nickel melakukan sejumlah langkah konkret melalui kolaborasi lintas. Salah satunya dengan menggandeng kader posyandu, bidan hingga anggota PKK-sebagai ujung tombak pendampingan keluarga dan pemantauan tumbuh kembang anak.
Harita Nickel juga memberikan edukasi kepada 57 peserta yang terdiri dari bidan desa se-kecamatan Obi Selatan, kader posyandu, dan anggota PKK seputar penyebab, dampak, dan upaya pencegahan stunting. Kemudian, edukasi cara pemantauan tumbuh kembang balita lewat pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS); dan pelatihan tata cara penggunaan alat medis antropometri atau pengukuran tubuh anak.
Salah satu kader posyandu Desa Soligi, Murni menjelaskan kegiatan posyandu dilakukan secara rutin setiap bulan melalui penimbangan, pengukuran anak, dan pembagian PMT. Pihaknya juga kerap melakukan jemput bola ke rumah-rumah balita gizi kurang dan stunting.
"Kami juga proaktif mengunjungi rumah-rumah balita berisiko stunting dan memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu agar memperhatikan gizi anak-anak serta rutin memeriksakan kandungan ke puskesmas," ungkap Murni.
Tak hanya itu, Harita Nickel bersama Pemerintah Desa Soligi dan Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan membangun gedung Puskesmas Pembantu (PUSTU). Didirikan menggunakan lahan hibah dari warga, gedung PUSTU kini menjadi episentrum pengentasan stunting di Desa Soligi.
Gedung PUSTU Desa Soligi Foto: Harita Nickel |
Berkolaborasi dengan TNI AD, BKKBN Provinsi Maluku Utara, DP3AKB Kabupaten Halsel, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Halsel, Harita Nickel juga melakukan identifikasi sumber air tanah dan pembangunan sumur air bersih warga. Dengan begitu, warga Desa Soligi dapat dengan mudah mengakses air bersih untuk kehidupan sehari-hari.
Dalam memberantas stunting, Program Soligi Zero Stunting juga mencakup pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal, penyerahan susu ibu hamil, hingga pemantauan berkala atas status gizi, berat badan, lingkar kepala anak. Kegiatan vaksinasi dasar untuk bayi dan lansia dan vaksinasi tetanus toksoid bagi ibu hamil juga dilakukan guna mencegah risiko penyakit pada tumbuh kembang anak.
Tren Penurunan Stunting Mulai Terlihat
Upaya penanganan stunting yang dilakukan secara terpadu mulai menunjukkan hasil nyata. Sejak Program Soligi Zero Stunting dihadirkan, sebanyak 354 anak telah mendapatkan pendampingan secara intensif. Selain itu, sekitar 300 paket PMT juga telah disalurkan untuk mendukung pemenuhan gizi anak.
Tak hanya itu, dampak positif juga terlihat dari tersedianya kader-kader desa yang aktif dalam mendeteksi dini kasus stunting. Kemitraan multipihak yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, dan sektor swasta juga semakin solid.
Hasilnya, pada akhir 2025 tercatat 21 dari 25 anak berada dalam kondisi tidak stunting di Desa Soligi. Angka ini menunjukkan adanya perbaikan signifikan dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting.
"Harapan kami, tahun depan bisa benar-benar nol, dan anak-anak Soligi tumbuh lebih sehat," ucap Marni.
Secara luas, Provinsi Maluku Utara juga menunjukkan penurunan prevalensi stunting dari 31,4% pada tahun 2018 menjadi 23,2% pada tahun 2024, atau turun 8,2 poin persentase dalam enam tahun (sekitar 1,4 poin per tahun).
Atas capaian ini, Program Soligi Zero Stunting meraih berbagai capaian. Salah satunya penghargaan Subroto 2025 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada kategori Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Terinovatif Bidang Kesehatan.
Vice President of Occupational Health and Safety (OHS) & Management System Harita Nickel, Supriyanto Suwarno, menegaskan capaian ini merupakan refleksi dari pendekatan perusahaan dalam menjalankan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) secara berkelanjutan.
"Penghargaan ini bukan akhir dari perjalanan kami, melainkan motivasi untuk memperluas kolaborasi dan memastikan setiap intervensi memberikan manfaat jangka panjang, khususnya bagi masyarakat di lingkar wilayah operasional Harita Nickel di Pulau Obi," pungkasnya.













































