Lawan Kemiskinan dengan Pecahkan Rekor Muri di Monas
Selasa, 16 Okt 2007 12:40 WIB
Jakarta -
Ada berbagai cara untuk berkampanye melawan kemiskinan dan mendukung Millenium Development Goals (MDGs). Salah satunya adalah dengan memecahkan rekor di Museum Rekor Indonesia (Muri).Pada tanggal 17 Oktober 2007 besok, karyawan berbagai serikat pekerja layanan publik akan berkumpul di Lapangan Monas, Jakarta, untuk berkampaye. Mereka juga akan melibatkan masyarakat dalam kegiatan tersebut. Sehingga, diharapkan akan terkumpul banyak orang dan dapat memecahkan rekor Muri sebagai rekor kampanye dengan peserta terbanyak selama 24 jam.Dengan tercatat di Muri, diharapkan pesan yang disampaikan lebih besar dan lebih dahsyat. Sebab, setiap orang akan dihitung. Artinya, setiap orang memiliki arti dalam menyuarakan pesan.Demikian keterangan tertulis yang diterima detikcom dari Public Service International Kantor Indonesia, pemrakarsa kegiatan tersebut, Selasa (16/10/2007).Sebelum bergerak ke Monas, massa yang antara lain berasal dari Serikat Pekerja (SP) PDAM, SP Angkasa Pura I, dan SP PLN Persero akan berkumpul di Kantor Public Service International terlebih dulu. Acara penghitungan peserta kampanye di Monas akan dilakukan pukul 10.00 WIB.Pada 17 Oktober 2007 itu juga, masyarakat dunia secara simbolik berdiri dan menunjukkan kepeduliannya bagi penanggulangan kemiskinan dengan berbagai cara. Mereka juga akan menyuarakan tuntutan, kesaksian, dan harapan kepada pemerintah untuk menepati janji bagi pemenuhan target-target MDGs.Kegiatan ini mengulang kegiatan yang telah dilakukan pada tahun 2006 lalu. Saat itu, lebih dari 23 juta orang di seluruh dunia berpartisipasi dalam acara tersebut dan dicatat di Guinness Book of World Record. Khusus di Indonesia, saat itu ada 45 ribu orang yang berpartisipasi dan dinyatakan sebagai kampanye dengan peserta terbanyak.Kampanye tersebut dilakukan antara lain karena dari 8 target capaian MDGs, sektor air dan sanitasi merupakan capaian target yang sulit dipenuhi oleh Pemerintah Indonesia. Tingkat layanan air perpipaan bagi masyarakat hanya 18 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan untuk sanitasi, hanya hanya sekitar 3 persen penduduk yang terlayani layanan air limbah terpusat.Untuk mencapai target, di sektor air minum hinga 2015 setidaknya dibutuhkan dana Rp 42,28 triliun atau Rp 3,3 triliun per tahun. Dengan dana itu, maka diharapkan terjadi penambahan kapasitas pengaliran minimal 93.000 liter per detik. Untuk sektor sanitasi, setidaknya butuh investasi senilai Rp 36 triliun.
(nvt/nrl)










































